Jika warung-warung makan (terpaksa) tutup, bagaimana
kah dengan mereka yang kelaparan setelah menempuh perjalanan jauh dan tidak
membawa bekal? Adik-adik kecil kita, para orang tua renta, perempuan yang
sedang haidh dan nifas, para non-muslim yang kebetulan kehabisan makanan atau
tidak sempat memasak di rumah?
Bersikap adil tidak hanya dinilai dari satu sisi, dari kita yang berpuasa. Kadang kita lupa melihat dari mereka yang tidak berpuasa, dari mereka yang menutup warung makan dan toko makanan minuman mereka demi kita yang berpuasa.
Patut kah saya bangga, bersyukur, atau merasa
bersalah dengan anjuran yang terpampang dimana-mana “Hormatilah Orang yang Berpuasa” ?
Tentu saja sikap menghormati adalah sebuah sikap
yang bisa datang dari hati yang ikhlas dan sukarela. Tapi sikap itu juga bisa
diperlihatkan khalayak ramai karena aturan pemerintah, para ulama, atau tekanan
lain. Jika ada polisi atau petugas—belum lagi sekelompok orang galak yang
dengan gampang menyerbu dan merusak—yang membuat penghormatan itu berlaku, saya
tak pernah yakin sejauh mana penghormatan (atau lebih tepat ”apresiasi”) yang
ikhlas yang sedang saya rasakan. Jangan-jangan semuanya adalah penghormatan
(atau lebih tepat ”sikap merunduk”) yang dengan gerutu.
Tapi hal itu tak dipersoalkan. Pokoknya:
saya berpuasa, sebab itu saya harus dihormati.
Kita sering menemukan wajah yang bertentangan dari
orang yang berpuasa—atau dari orang dalam ibadat yang mana pun. Dan kontradiksi
ini disembunyikan atau ditekan karena wacana yang ada diberi sanksi oleh sebuah
bayangan tentang Yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna yang menuntut keutuhan dan kekuatan,
bukan sebuah bayangan tentang Yang Maha Rahman dan Rahim yang mengampuni si
daif dan si retak-cacat.
Bulan ini adalah bulan yang berbicara tentang
kondisi dasar manusia yang paling kurang. Puasa adalah penegasan diriku sebagai
sesuatu yang lapar dan juga retak: sebagai aku yang ingin dan tak mendapat, aku
yang menolak untuk rakus tapi juga merasa sakit.
Puasa adalah tameng pelindungku dari pergolakan
batin dan hawa nafsuku. Puasa juga merupakan supremasiku. Aku berpuasa, maka tak ada yang
berhak bersikap apapun yang menggodaku. Aku berpuasa, aku berkorban, maka
mereka yang tidak berpuasa berarti tidak berkorban. Mereka yang tidak berkorban
berarti loba, dan mereka tidak lebih suci daripadaku.
Puasa juga tidak hanya sekadar makan dan minum. Kita
sadar esensi puasa yang jauh lebih dalam daripada itu. Puasa bukan soal menjaga
badan, sebagaimana puasa sejak dari pemikiran. Sebagaimana bersikap adil sejak
dalam pikiran. Sebagaimana ibadah yang menjadi momen keintiman kita, berdua
saja dengan Dia, tanpa interupsi, tanpa perlu dilihat, diapresiasi, dan
dihormati siapa pun.
Apakah suatu perasaan yang tumbuh, menggerogoti nuraniku yang sedang berpuasa ini? Apakah sesuatu yang menuntut dihormati, sebab aku sedang berpuasa? Apakah aku yang berpuasa ini adalah sebuah prestasi,
sebuah posisi diatas sana, dimana Yang Maha Kekal dan Sempurna mengangkatku,
sehingga aku adalah momentum untuk meminta empati, penghargaan, dan dihormati?
Saya takut dihormati.
No comments:
Post a Comment