Monday, June 12, 2017

Saya Takut Dihormati

Puasa, baik secara harfiah atau istilah, mempunyai banyak godaan. Kita bisa tergoda dengan berbagai hawa nafsu. Tapi kita tidak boleh tergoda. Saya tidak boleh terganggu, lebih tepatnya, diganggu. Puasa menjadi semacam privilese. 

Jika warung-warung makan (terpaksa) tutup, bagaimana kah dengan mereka yang kelaparan setelah menempuh perjalanan jauh dan tidak membawa bekal? Adik-adik kecil kita, para orang tua renta, perempuan yang sedang haidh dan nifas, para non-muslim yang kebetulan kehabisan makanan atau tidak sempat memasak di rumah?

Bersikap adil tidak hanya dinilai dari satu sisi, dari kita yang berpuasa. Kadang kita lupa melihat dari mereka yang tidak berpuasa, dari mereka yang menutup warung makan dan toko makanan minuman mereka demi kita yang berpuasa.

Patut kah saya bangga, bersyukur, atau merasa bersalah dengan anjuran yang terpampang dimana-mana “Hormatilah Orang yang Berpuasa” ?

Tentu saja sikap menghormati adalah sebuah sikap yang bisa datang dari hati yang ikhlas dan sukarela. Tapi sikap itu juga bisa diperlihatkan khalayak ramai karena aturan pemerintah, para ulama, atau tekanan lain. Jika ada polisi atau petugas—belum lagi sekelompok orang galak yang dengan gampang menyerbu dan merusak—yang membuat penghormatan itu berlaku, saya tak pernah yakin sejauh mana penghormatan (atau lebih tepat ”apresiasi”) yang ikhlas yang sedang saya rasakan. Jangan-jangan semuanya adalah penghormatan (atau lebih tepat ”sikap merunduk”) yang dengan gerutu.

Tapi hal itu tak dipersoalkan. Pokoknya: saya berpuasa, sebab itu saya harus dihormati.
Kita sering menemukan wajah yang bertentangan dari orang yang berpuasa—atau dari orang dalam ibadat yang mana pun. Dan kontradiksi ini disembunyikan atau ditekan karena wacana yang ada diberi sanksi oleh sebuah bayangan tentang Yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna yang menuntut keutuhan dan kekuatan, bukan sebuah bayangan tentang Yang Maha Rahman dan Rahim yang mengampuni si daif dan si retak-cacat.
Bulan ini adalah bulan yang berbicara tentang kondisi dasar manusia yang paling kurang. Puasa adalah penegasan diriku sebagai sesuatu yang lapar dan juga retak: sebagai aku yang ingin dan tak mendapat, aku yang menolak untuk rakus tapi juga merasa sakit.

Puasa adalah tameng pelindungku dari pergolakan batin dan hawa nafsuku. Puasa juga merupakan supremasiku. Aku berpuasa, maka tak ada yang berhak bersikap apapun yang menggodaku. Aku berpuasa, aku berkorban, maka mereka yang tidak berpuasa berarti tidak berkorban. Mereka yang tidak berkorban berarti loba, dan mereka tidak lebih suci daripadaku.

Puasa juga tidak hanya sekadar makan dan minum. Kita sadar esensi puasa yang jauh lebih dalam daripada itu. Puasa bukan soal menjaga badan, sebagaimana puasa sejak dari pemikiran. Sebagaimana bersikap adil sejak dalam pikiran. Sebagaimana ibadah yang menjadi momen keintiman kita, berdua saja dengan Dia, tanpa interupsi, tanpa perlu dilihat, diapresiasi, dan dihormati siapa pun.

Apakah suatu perasaan yang tumbuh, menggerogoti nuraniku yang sedang berpuasa ini? Apakah sesuatu yang menuntut dihormati, sebab aku sedang berpuasa? Apakah aku yang berpuasa ini adalah sebuah prestasi, sebuah posisi diatas sana, dimana Yang Maha Kekal dan Sempurna mengangkatku, sehingga aku adalah momentum untuk meminta empati, penghargaan, dan dihormati?

Saya takut dihormati.

No comments:

Post a Comment