Monday, June 13, 2016

I Hate My Self

Boleh kah kita menyalahkan seseorang yang punya karakter jelek pada orang tersebut saja? Bolehkah kita menyalahkan lingkungan tempat ia tumbuh? Tapi bukankah semua orang punya sifat alami masing-masing?

Saya membenci diri saya sendiri, sebenarnya. Saya iri, melihat orang lain yang basicnya punya attitude bagus. Dia pintar, multitalenta, rajin dan rapih.

Saya sempat bertanya-tanya, darimana dia dapat attitude bagus seperti itu? Apakah lingkungan dia bersekolah yang kondusif? Atau karena memang punya orang tua yang sama-sama punya attitude bagus?

Ternyata, ayah dia seseorang yang sangat mementingkan akademik. Di sisi lain dia punya ibu yang lebih mementingkan pengembangan diri di luar akademik. Karena itu lah, -selain otaknya emang encer-, dia bisa seimbang antara sekolah dan kegiatan non-akademik. Keduanya bener-bener berjalan dengan baik. Well, dia bersekolah yang punya ekstrakurikuler bagus, aktif, punya fasilitas belajar yang memadai, dan guru yang niat dan jelas.

Saya mengidolakannya, cantik, pinter, baik, fashionable, feminim lagi. Oh! Siapa yang gak pingin seperti itu.

Diam-diam, saya coba mengikuti dia. Apa saja tentang dia. Saya coba mengikuti mode fesyen dia, sepatu, tas, baju, dll. Tapi oh, saya lupa saya bukan anak yang punya budget buanyak supaya bisa ngikutin fesyen dia. Setelah cari-cari pakaian dan aksesoris yang mirip dengan punya dia, i found it is pricey banget. Dan saya lupa, mana bisa saya ngikutin gaya dia. Dia gak berjilbab, jelas beda. Budget pun beda.

Saya coba ngikutin cara tertawa dia, bicara dia, bahan bacaan apa yang dia baca, dan lain-lain. Saya coba ikuti semua.

But well, ternyata kebanyakannya gagal.

Semakin saya coba menyerupai dia, semakin saya sadar dan menampar diri "but i'm not her anyway".

Dan dari situ, saya membenci diri saya.

Bukan nasib saya yang tak seberuntung dia yang saya sesalkan. Saya bersyukur atas apa yang saya punya. Tapi saya benci diri saya.

Saya jauh berkebalikan dari dia. Saya basically orang yang males. Saya jorok, berantakan, semua orang bilang "kau cewek tapi gak rapih?". Saya gak pandai artistik, wether ngedit foto, gaya berpakaian, nyanyi, gambar, pokoknya saya gak punya keindahan apapun. Saat melihat foto diri saya, saya malu karena gak punya pose bagus. Dan saya gak bisa menemukan, dimana letak daya tarik saya sebagai gadis?

Saya gak punya talent apa-apa. Saya bawaannya kalo ngomong itu ceplas ceplos, suara keras. Saya iri
 dengan teman-teman saya yang bicaranya halus, dan mereka gak pernah berkata hal-hal yang nyengit, when i do it accidentally. Seringkali saya gak sengaja mengucapkan sesuatu, malah bikin orang sebel atau ngetawain saya. Sialnya, saya gak tau saya salah dimana. And at the same time, saya bukan orang yang pendiam. Oh, alam semesta, apa sebaiknya aku menahan bicara saja?

Dan salah satu aib yang kerap bikin saya makin benci sama diri saya, semua orang tau ini. Kurangnya kemampuan saya dalam berbicara. Saya kalau ngomong suka kecepetan, tiap kata nyangkut-nyangkut. Artikulasi saya gak jelas.

Saya jengkel dengan diri saya yang teledor, lelet, telmi. Saya gak pintar, baik akademik maupun non. Dan Tuhan tau saya pernah mati2an belajar sampai gak tidur, dan kemampuan saya masih rata-rata. Saya suka telat faham dengan apa yang guru dan teman ajarkan. Bodohnya saya!

Dan pada akhirnya, kalau saya ditertawakan teman-teman saya, saya tidak bisa mengklaim mereka jahat. Saya memang pantas ditertawakan.

Saya bertanya-tanya, kenapa saya begini? Dan kenapa saya punya watak yang tidak selembut teman-teman saya? Banyak memang sifat saya yang diturunkan oleh orangtua saya. Tapi bolehkah saya menyalahkan mereka atas hal jelek yang mereka turunkan pada saya? Bolehkah saya iri dengan anak lain yang mewarisi semua hal baik dari orangtuanya?

No matter how i tried untuk memperbaikinya, sifat alami saya tetap sama.

Mungkin saya produk gagal.

Tapi apa alam semesta benar-benar pernah menciptakan suatu produk gagal? Kalau ya, saya yakin saya contohnya.

Being introvert, yang sialnya gak introvert banget, alias introvert cerewet bikin saya serba salah. Saya jadi takut bergaul... Saya takut kalau saya membaur, saya akan ditertawakan lagi -walau itu pantas-. Apakah saya sebaiknya membenamkan diri diantara buku-buku saya? Menyendiri saja hanya bersama Tuhan saya yang Maha Penyayang?

No comments:

Post a Comment