1.
La Grand Voyage (Prancis, 2004)
Sesuai
namanya, La Grand Voyage adalah film yang berasal dari Perancis. Film ini
sejenis road movie, bercerita tentang
seorang anak yang terpaksa mengantar ayahnya berhaji dengan perjalanan darat.
Selama itu terjadilah perselisihan-perselisihan. Namun seiring perjalanan,
hubungan dingin tersebut perlahan mencair, dan sang anak pun belajar banyak
hal. Tentang perjalanan, kehidupan, agama Islam, dan ayahnya. Film yang menghangatkan hati, mencerahkan, dan
emosional.
2.
Mencari Hilal (Indonesia, 2015)
Kurang
lebih cerita Mencari Hilal mirip dengan La Grand Voyage. Pak Mahmud adalah
seorang yang taat dan alim, namun kaku sehingga sering membuat ‘gemas’
orang-orang disekitarnya. Suatu ketika ia merasa terusik ketika mendengar
berita miliaran rupiah yang dikeluarkan pemerintah untuk sidang isbat. Pak
Mahmud yang merupakan alumnus pesantren tahu benar untuk mencari hilal tak
perlu pemborosan sebanyak itu. Hal ini lantas mendorongnya untuk mencari hilal,
bersama anaknya, Helmi, yang terpaksa menemani ayahnya. Hubungan keduanya yang
tampak asing, namun diam-diam tetap mendambakan kasih sayang ayah anak yang
telah menghilang lama...
Seperti
La Grand Voyage pula, film ini bisa jadi membuat sapu tangan kita tanpa sadar
basah, dan membuat kita sejenak merenung setelah film ini selesai. Apakah
selama ini agama telah menjadi panutan hidup kita, atau sekadar sebagai
pelengkap eksistensi dan identitas diri?
Tontonan
yang jujur, bersahaja, hangat, indah, dan membuat kita ingin memberi pelukan
hangat ke ayah kita. Definitely an instant classic!
3.
Children of Heaven (Iran, 1997)
Children
of Heaven adalah film Iran pertama yang berhasil meraih nominasi Oscar,
sekaligus film pertama yang memperkenalkan saya ke dunia perfilman Iran yang
ternyata sarat akan agama dan nilai dari kehidupan sehari-sehari. Tentang
seorang kakak yang berusaha mendapatkan sepatu untuk adiknya.
Plotnya
setipis kertas. Namun, jangan pernah meremehkan Majid Majidi yang selalu
berhasil membuat cerita sederhana menjadi... Ya, menyentuh, dan istimewa.
4. Munafik
(Malaysia, 2016)
Perfilman
Malaysia biasanya sangat sarat dengan agama Islam. Dan Munafik adalah salah
satu film horor paling fenomenal dari negeri Jiran ini. Iman Ustaz Imam goyah
semenjak kecelakaan yang menimpa istrinya. Dan semenjak itu serentetan kejadian
ganjil kerap menghampirinya, termasuk seorang gadis yang kerasukan. Demi
memenangkan pertarungannya dengan setan, Imam harus menguatkan kembali imannya,
dan mengikhlaskan kepergian istrinya.
Film
ini tidak hanya membuat kita tidak nyaman di kursi kita menonton, atau membuat
kita bergidik ngeri. Lebih dari itu, film horor ini mendorong kita untuk lebih
mendekatkan diri kepada Yang Maha Satu, sekaligus mempertanyakan sejauh mana
keimanan kita kepada Allah Azza wa Jalla.
5.
My Name Is Khan (India, 2010)
Khan
adalah seorang pria India muslim yang melakukan perjalanan ke penjuru Amerika
untuk menemui Presiden, demi menyampaikan sebuah pesan bahwa umat Muslim
bukanlah teroris. Film ini memotret realitas yang terjadi di kalangan minoritas
yang mengalami diskriminasi dan rasisme paska peristiwa 11 September.
Film
ini akan menguras emosi kita, seraya menyampaikan pesan penting. Bahwa
kebencian dan prasangka hanya akan membawa kerusakan, sementara cinta, kebaikan
dan toleransi dapat mendatangkan kedamaian.
6.
PK (India, 2014)
Terlepas
dari adegan mobil bergoyang (hahaha), film ini tak tanggung tanggung dengan
ke-asoy gemboyannya menyinggung isu sosial yang sensitif, berani, lucu namun
kristis. Film yang merupakan salah satu penampilan terbaik Amir Khan ini kerap
membuat kita bertanya “dimana Tuhan bermukim?”, “mengapa ada banyak sekali
agama jika hanya ada satu Tuhan?”, atau “apa ritualitas tertentu betul-betul
dibutuhkan untuk berkomunikasi dengan Tuhan?”.
Tentu,
si pembuat film tidak bermaksud untuk menggoyahkan iman kita. Melainkan justru
memberi kita kesempatan berkontemplasi yang boleh jadi bertujuan mengajak
penonton mengenali lebih dalam ajaran agama masing-masing.
Terdengar
berat? Apakah film ini akan membuat kita mengerutkan kening? Big No! Justru
kita akan dibuat gemas, tertawa terpingkal-pingkal, tapi tidak lupa : kontemplasi tentang Ketuhanan kita
7.
Timbuktu (Prancis/Mauritania, 2014)
Kehidupan
di Desa Timbuktu awalnya berjalan damai, sampai datang sekelompok ekstrimis yang
membawa aturan-aturan yang menyengsarakan warganya dengan membawa nama Islam.
Tanpa adegan dramatis, film yang jujur dan sederhana ini berhasil membuat saya
menitikkan air mata dan terhenyak sepanjang film, bahkan... Terlalu emosional.
8.
The Songs of Sparrow (Iran, 2008)
Selepas
dipecat dari pekerjaannya karena tidak sengaja melepas seekor burung unta dari
kandangnya, seorang ayah dari tiga anak dihadapkan pada serentetan persoalan
hidup yang rumit, menjengkelkan, sekaligus kocak. Majid Majidi yang menghadiahi
kita dengan Children of Heaven (1997), mengemas film dengan pendekatan
realistis sehingga mudah bagi penonton untuk terhubung dengan kisahnya. Salah
satu komentar sosial yang diangkat oleh The Song of Sparrows adalah bagaimana
sebuah kota besar dan gaya hidup modern mampu merubah seseorang secara drastis.
Kocak pula menyentil!
9. The
Message (Lebanon/Inggris, 1976)
Memvisualisasikan
sejarah Islam ke dalam bahasa gambar, The Message tergolong tontonan penting
buat disimak karena tema usungannya amat sangat jarang dikupas. Film ini
mencuplik peristiwa-peristiwa penting selama Nabi Muhammad menyebarkan ajaran
Islam, termasuk Hijrah ke Madinah, Perang Badar, dan Perang Uhud, menggunakan sudut
pandang penceritaan dari Paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib, lalu
sahabat-sahabat Nabi yang lain seperti Bilal dan Zaid, serta pemimpin utama
Bani Quraisy yang mula-mula menentang Nabi namun belakangan memeluk Islam, Abu
Sufyan.
10.
Wadjda (Arab Saudi, 2012)
Wadjda
bercerita tentang seorang perempuan berusia 11 tahun yang ‘bandel’ dan ingin
memiliki sepeda. Namun mengingat mengendarai sepeda bagi wanita adalah ilegal,
Wadjda tidak pantang menyerah meraih impiannya.
Film
Arab pertama yang dibuat oleh sutradara perempuan ini memberikan kita
kesempatan untuk menilik budaya Arab dan kehidupan wanita dibalik
‘ketertutupan’ mereka. Wadjda adalah sebuah sajian menarik, menggelitik, serta
membuka pikiran.
11.
Perempuan Berkalung Sorban (Indonesia,
2009)
Bercerita
tentang Anisa, seorang perempuan yang ingin menerobos hal-hal diluar tradisi
konservatif di pondok pesantrennya. Perempuan Berkalung Sorban termasuk sedikit
diantara banyak film yang berani mengkritik keboborokan pendidikan Islam di
zaman sekarang.
12.
A Separation (Iran, 2011)
A
Separation bercerita tentang suami istri yang hendak bercerai. Film Iran yang
satu ini memang bukan film agama, tapi konten di dalamnya banyak menyinggung
tentang agama, walaupun tidak menjadikannya materi pokok. Lihat saja betapa
taatnya sang pembantu seperti yang digambarkan di dalam film.
Selamat
menonton!
No comments:
Post a Comment