Buku adalah jendela dunia, dan membaca selain menambah ilmu juga punya baaanyak sekali manfaat. Dengan membaca maka wawasan retorika kita akan bertambah ; kita jadi terbiasa untuk ‘berproses’, menyerap setiap kata demi mendapatkan informasi ; dengan membaca kita akan terbiasa bertabayyun terhadap informasi baru, ya, dengan membaca. Dan masih baaanyak manfaat lainnya.
Berikut rekomendasi buku spesial Ramadhan versi saya.
1. Tasaro
GK : Tetralogi Muhammad
Pernah membaca sirah dalam bentuk novel? Well,
membuat biografi Nabi SAW ke bentuk novel memang langkah yang sangat berani dan
penuh resiko. Sebab untuk memastikan setiap perasaan bahkan ucapan yang ada di
setiap kejadian dan setiap tokoh tentu perlu ketelitian, riset dan kepekaan
yang luar biasa tinggi.
Namun Tasaro GK berhasil mengatasinya dengan baik
sekali. Sehingga tetralogi Muhammad sangat berbeda dengan biografi-biografi
lain. Tidak sekadar tahun, atau siapa yang berbuat begini dan begitu, atau
sekadar nama tempat. Jauh lebih dari itu, tetralogi Muhammad mampu membuat kita
tersentuh. Permainan diksi nan puitis dan apa adanya berhasil membuat kita
dengan mudah mengimajinasikan kejadian di dalam novel tersebut, dan membuat saya
berkali-kali terbayangkan film The Message yang fenomenal itu.
An instant classic!
2. Salim
A Fillah : Dalam Dekapan Ukhuwwah
Inti buku ini ialah sesuai judulnya, ukhuwwah.
Masalah apa saja yang dapat terjadi dalam ukhuwwah, bagaimana menghidupkan
ukhuwwah, dan lain-lain. Namun juga sarat akan wisdom dan pengetahuan Islam yang seluas alam. Buku
ini berisi cerita-cerita inspiratif, puisi yang menyentuh, dan penelitian dari
buku-buku mentor ternama seperti Jhon C Maxwell, Stephen Covey, Yvonne Oswald,
dan lain-lain.
Sulit bagi saya menentukan bab mana yang paling saya
sukai, sebab setiap bab memiliki penekanan yang berbeda. Di setiap akhir bab, saya
kian menutup buku sejenak, dan merenungkan sejauh mana diri ini mampu mendekap
ukhuwwah, dan lebih jauh, sejauh mana saya telah mengamalkan Islam tidak hanya
sebagai pemenuh eksistensi jati diri, tapi sebagai wisdom dan penunjuk yang
saya dekap di kehidupan sehari-hari.
Dalam Dekapan Ukhuwwah adalah hadiah, surat cinta
paling hangat yang disajikan Salim A Fillah dibanding buku-bukunya yang lain.
3. Abbas
As-Siisy : Bagaimana Menyentuh Hati
“Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, bila ia
buruk maka buruklah seluruh tubuh,” demikian sabda Rasulullah Saw. mengenai
hati. Dakwah sesungguhnya berorientasi mengubah arah kehidupan umat manusia;
dari kebatilan menuju kebenaran, dari kegelapan menuju cahaya, dari kerancuan
menuju kejelasan. Semua itu bermula dari hati. Dalam Buku ini, Syaikh Abbas
As-Siisiy, seorang dai yang berpengalaman, memberikan berbagai uraian tentang
dakwah, dengan mengangkat kisah para Sahabat bersama Rasulullah SAW, para
sahabat, hingga kisah pengalamannya dalam berinteraksi dengan medan dakwah,
baik yang dialami sendiri maupun yang disaksikannya. Dari
kisah-kisah nyata itulah beliau mengambil beberapa hikmah dan pelajaran yang
sangat bermanfaat bagi kita semua, para penyeru dakwah.
Seorang da’i perlu
belajar merendah diri. Dakwah bukan medan menunjuk-nunjuk kelebihan atau
kehebatan diri. Dakwah ialah sebuah proses membimbing dan menyatukan hati-hati
kembali kepada Allah.
Buku ini mengungkapkan
bahwa hanya dengan hal-hal ‘sepele’ yang terkadang sering terlupa, sebenarnya
kita dapat menyentuh hati orang lain.. Buku ini juga menyadarkan bahwa hati
hanya dapat ‘disentuh’ oleh hati.
4. Sayyid
Qutb : Ma’alim Fi Thariq
Buku ini merupakan karya terakhir beliau yang
ditulis dalam tahanan pada tahun 1964. Buku ini pula yang mengantarkan sang
penulis meraih kesyahidan di tiang gantungan rezim zalim penguasa Mesir Gamal
Abdul Nasser. Beliau dihukum mati dengan hukuman gantung pada tanggal 29 Agustus 1966. Dalam buku ini beliau mengemukakan gagasan
tentang perlunya revolusi total, bukan semata-mata pada sikap individu, namun
juga pada struktur negara. Buku ini pula yang dijadikan bukti utama dalam
sidang yang menuduhnya bersekongkol hendak menumbangkan rezim diktator Mesir,
Gamal Abdul Nasser.
Sebuah bacaan yang menggetarkan hati, menambah
wawasan yang sangat luas tentang politik islam, dan bagaimana buku ini
menyadarkan kita bahwa beragama Islam tidak sekadar beretorika, tapi juga
pergerakan.
Outstanding!
5. Walid
bin Wahid Sadikin : Orang-Orang yang Tak Suka Popularitas
Popularitas telah menjadi berhala akhir-akhir ini.
Semua orang ingin dikenal. Jangankan yang bersifat duniawi, bahkan yang
bersifat ukhrawi pun dipamerkan. Jangankan yang bersifat jasmani, bahkan yang
bersifat rohani pun dipamerkan.
Kita hidup di zaman ketika segala hal, dari yang
remeh temeh sekali pun menjadi ajang untuk pamer dan unjuk diri. Kita hidup di
zaman dimana kebajikan menjadi bahan untuk membentuk imej, bukan lagi semata
penghambaan.
Di tengah hirup pikuk masyarakat yang berisik,
selalu ada malaikat yang hening. Orang-orang yang diam dalam sunyi, yang
menjalani hidup tanpa hasrat terkenal, yang menjauhkan diri dari pujian dan
pemujaan, yang senantiasa bersyukur karena tak dibelenggu popularitas. Mereka
lah kaum Ahfiya’, orang-orang yang merahasiakan diri, tidak ingin dikenali,
tidak ingin unjuk diri, karena hidup mereka tidak membutuhkan apapun selain
sunyi.
Buku yang merupakan terjemahan kitab Al-Akhfiya’ : Al-Manhaj was-Suluk,
adalah buku kecil serupa oase di padang pasir. Siapa pun yang terlalu sibuk
unjuk diri, mungkin perlu membaca buku ini. Untuk jeda sejenak, untuk mengenali
diri...
6. Goenawan
Mohammad : Catatan Pinggir
Goenawan Mohammad adalah salah satu orang di negeri
ini yang paling saya kagumi. Beliau telah menulis jauh sebelum saya lahir, dan
masih sampai sekarang.
Catatan pinggir merupakan sekumpulan esay yang rutin
ditulis Goenawan Mohammad di majalah Tempo juga di blog pribadinya. Buku ini
telah memiliki 10 jilid, dan rata-rata di setiap jilidnya terdapat 100-200
catatan. Catatan Pinggir sendiri membahas A sampai Z, 1 sampai tak hingga, dari
Bisma sampai Zarathustra, Bung Karno sampai Che Guevera, Abu Nawas sampai Herr
Keuner, Chairil Anwar sampai Alvin Toffler, John Maynard Keynes sampai John
Kenneth Galbraith, Pram sampai Nietzsche, dari Abisalom sampai... Oh well.
Tulisan Goenawan Mohammad khas dengan bahasa
yang kalem, dingin, datar, namun dalam, dan sulit dipahami haha. Saya pribadi
sering kesulitan memahami Caping walau sudah membacanya di tempat sepi dan di
pojokan, bahkan sekali pun telah membacanya berkali-kali. Tapi membaca
Caping such a addicting.
Catatan Pinggir memang bukan buku Islami atau buku
tentang agama, tapi sungguh mengasyikkan menyelami wawasan dia yang sangat...
sangat luas.
7. Agustinus
Wibowo : Garis Batas
Garis Batas juga bukan buku Islami atau buku tentang
agama. Garis Batas berisi perjalanan Agustinus Wibowo berada di
negeri-negeri Asia Tengah yang misterius seperti Afghanistan, Tajikistan,
Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, yang di dalamnya terkandung
banyak filosofi, agama, budaya, dan realitas yang tak tersentuh.
Garis batas geografis
terkadang ditandai oleh sungai, pegunungan, jalan atau tonggak-tonggak yang
terpancang antar dua wilayah negara yang berbeda. Saat kita melewati garis
tersebut, banyak hal yang akan berubah. Dari negara yang berubah, maka bahasa,
mata uang, agama, adat istiadat, budaya dan sebagainya pun berubah. Perubahan
itu terkadang tipis tak terlihat hingga lebar tak terhingga.
Selimut Debu, Garis
Batas, dan (yang paling membuat saya baper) Titik Nol adalah buku perjalanan
yang traveller ini lakukan di negeri-negeri yang tidak biasa, yang justru
dihindari traveller kebanyakan. Buku-buku Agus tidak hanya tentang nama negara,
keunikan dan ikon di dalamnya, tapi wisdom, esensi dan filosofi dari setiap
perjalanan yang dia lakukan.
Salah satu buku travel
terbaik yang pernah ada!
8. Maulana
Muhammad Zakaria : Fadhail A’mal
Bisa dibilang, Fadhail A'mal salah satu buku yang paling
mengubah hidup saya selain Orang-Orang yang Tak Suka Popularitas. Buku ini
terbagi jadi 5 bab. Tentang keutamaan para sahabat, keutamaan shalat, keutamaan
berpuasa, keutamaan membaca Al-Qur'an, dan keutamaan berdzikir. Berisi
sekumpulan ayat Al-Qur’an, hadist, kisah sahabat dan alim ulama, bahkan juga
ada kutipan dari kitab Taurat.
Bagian tentang keutamaan para sahabat yang paling
membuat saya menangis tersentuh, atau menangis karena malu pada diri saya
sendiri, karena tidak setabah para sahabat Rasulullah seperti yang diceritakan
di buku ini.
Bagi saya buku ini sulit diselesaikan dengan cepat,
sebab setiap kali saya selesai membaca satu halaman, saya kerap termenung dan
mempertanyakan keislaman dan keimanan saya. This book is beyond the words!
9. Emha
Ainun Nadjib : Sililit Sang Kiai
Ini adalah buku terbaik Cak Nun yang pernah saya
baca. Gugatannya yg cerdas, liar, berani, dan asoy gemboy menjadikan
Emha sebagai seorang tokoh Islam yang paling menggemaskan.
Sililit Sang Kiai
menyentil realitas sosial yang dekat dengan kita, hal-hal sepele yang kerap
kita lupakan namun berdampak besar. Lugas, lucu namun menohok, khas Cak Nun.
Mungkin buku yang sangklek ini sulit diterima bagi mereka yang berlum terbiasa
membaca tulis Cak Nun, tapi pada akhirnya, tanpa sadar atau tidak, kita akan sampai pada titik kita
mengucapkan ini : “Benar juga”
10. Gilang
Pratama : Cuci Otak NII
Gilang Pratama adalah salah satu korban perekrutan
NII yang mengangankan membangun negara Islam di Indonesia. Setelah
bertahun-tahun bergabung dengan organisasi itu –sehingga tahu seluk beluk
seutuhya- Gilang Pratama akhirnya menyadara bahwa NII tidak lebih dari sekadar
organisasi mafia pencuci otak yang hanya menginginkan uang dan keuntungan para
anggotanya.
Buku ini tidak hanya memaparkan perjalanan
penulisnya dalam organisasi NII, tetapi juga memaparkan bagaimana liciknya NII
memutar balikkan ajaran-ajaran agama demi kebutuhan dan keuntungannya sendiri.
Yap! Mungkin sebagian judul diatas terdengar asing. Tapi
justru buku yang bagus tidak terkenal, karena dalam pembuatannya tidak
terpengaruh embel-embel komersial, atau pun pemenuhan pasar. Sebagian memang
berat, sebagian juga buku ringan. Tidak ada yang salah membaca buku apa pun.
Membaca buku berat bukan berarti lebih pintar, atau sebaliknya. Sebab,
pengetahuan apapun yang digunakan dengan baik akan menjadi wisdom,
kebijaksanaan, kemampuan yang hanya dimiliki manusia untuk membedakan baik buruk
dan benar salah.
Sayyid Quthb bagus
ReplyDelete