Monday, June 12, 2017

Puasa Tidak Sekadar Menahan Diri

Singkatnya puasa berarti menahan haus dan lapar, dari waktu setelah sahur sampai berbuka. Lebih jauh, puasa berarti kita menahan diri dari hawa nafsu, apapun bentuknya seperti nafsu akan marah, berkata yang tidak baik, membicarakan orang, melihat yang tidak baik, dan lain-lain.

Ada dalil yang mengatakan, bahwa puasa adalah perisai. Dia lah penahan kita dan penjaga kita di siang hari. Namun, pernah kah terpikir oleh kita, bagaimana setelah berbuka?

Apakah setelah berbuka berarti kita boleh menuruti hawa nafsu kita -selain makan dan minum- seperti contoh di atas?

Di sini lah yang sepatutnya menjadi bahan renungan kita. Apakah esensi puasa yang sebenarnya?

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Ya, berpuasa, terutama di Bulan Ramadhan bertujuan membentuk diri kita menjadi orang yang bertakwa. Berpuasa, menahan diri dari hawa nafsu dan hal-hal maksiat, sejatinya memberikan kita konsekuensi, yaitu mempertanggung jawabkan nilai-nilainya setelah berbuka.

Setelah berbuka puasa, kita justru dituntut untuk menjaga diri lebih kuat lagi. Apabila kita berpuasa dan menjauhkan diri dari maksiat selama siang hari kemudian ‘balas dendam’ menyalurkan hawa nafsu kita pada malam hari, maka patut dipertanyakan, lantas untuk apa saya lelah-lelah berpuasa kalau malam harinya sama saja?

Kemudian, sehabis berbuka, kita bebas untuk makan dan minum apa saja sepuasnya, namun di sini juga lah kita temukan esensi berpuasa. Apa itu? Tetap menjaga diri dan tidak berlebihan, serta mengontrol emosi dan nafsu kita untuk makan dan minum secukupnya. Misalnya ketika menjelang berbuka, biasanya kita merencanakan akan berbuka dengan apa, dan tidak jarang saat itu tiba, kita justru diperbudak hawa nafsu kita untuk memakan banyak makan dan meminum banyak jenis minuman, yang padahal tidak terlalu diperlukan.

Kita memang bisa makan dan minum, tapi bukan berarti kita patut untuk berlebihan. Kita boleh senang, dengan berbuka kita bisa berbincang dengan teman kita seperti biasa, tapi bukan berarti kita patut berkata yang tidak baik saat puasa (seperti yang sedang nge-tren misalnya : any**g, sialan, b*go, dan lain-lain).
Puasa tidak sekadar pause untuk tidak bermaksiat, tetapi juga pengingat kita, bahwa berpuasa justru membebani kita tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilainya. Berpuasa melatih kita untuk senantiasa merasa diawasi Allah Ta’ala, sehingga kita meninggalkan sesuatu yang kita sukai, padahal kita bisa saja melakukannya, karena kita meyakini bahwa Allah mengawasi kita.

Sebab, puasa yang hakiki adalah puasa yang berbuah ampunan Allah, sebagai bentuk tarbiyah kita, dan puasa membiasakan kita untuk senantiasa menjaga diri kapan pun dan dimana pun.


“Makna puasa (yang hakiki) adalah puasanya seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa dan puasanya perut dari minuman dan makanan.  Sebagaimana makan dan minum itu memutuskan kesahan puasa dan merusaknya, maka demikian pula dosa-dosa akan memutuskan pahala puasa dan merusak buahnya, hingga membuatnya menjadi seperti kedudukan orang yang tidak berpuasa” (Shahih Al-Wabilish Shayyib, hal.54-55).

“Maka puasa (yang hakiki) adalah puasanya seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa dan puasanya perut dari minuman dan makanan.  Sebagaimana makan dan minum itu memutuskan kesahan puasa dan merusaknya, maka demikian pula dosa-dosa akan memutuskan pahala puasa dan merusak buahnya, hingga membuatnya menjadi seperti kedudukan orang yang tidak berpuasa” (Shahih Al-Wabilish Shayyib, hal.54-55).

Sumber: https://muslim.or.id/25774-hakekat-puasa-2.html
“Maka puasa (yang hakiki) adalah puasanya seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa dan puasanya perut dari minuman dan makanan.  Sebagaimana makan dan minum itu memutuskan kesahan puasa dan merusaknya, maka demikian pula dosa-dosa akan memutuskan pahala puasa dan merusak buahnya, hingga membuatnya menjadi seperti kedudukan orang yang tidak berpuasa” (Shahih Al-Wabilish Shayyib, hal.54-55).

Sumber: https://muslim.or.id/25774-hakekat-puasa-2.html

No comments:

Post a Comment