Ada dalil yang mengatakan, bahwa puasa adalah
perisai. Dia lah penahan kita dan penjaga kita di siang hari. Namun, pernah kah
terpikir oleh kita, bagaimana setelah berbuka?
Apakah setelah berbuka berarti kita boleh menuruti
hawa nafsu kita -selain makan dan minum- seperti contoh di atas?
Di sini lah yang sepatutnya menjadi bahan renungan
kita. Apakah esensi puasa yang sebenarnya?
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)
Ya, berpuasa, terutama di Bulan Ramadhan bertujuan
membentuk diri kita menjadi orang yang bertakwa. Berpuasa, menahan diri dari
hawa nafsu dan hal-hal maksiat, sejatinya memberikan kita konsekuensi, yaitu
mempertanggung jawabkan nilai-nilainya setelah berbuka.
Setelah berbuka puasa, kita justru dituntut untuk
menjaga diri lebih kuat lagi. Apabila kita berpuasa dan menjauhkan diri dari
maksiat selama siang hari kemudian ‘balas dendam’ menyalurkan hawa nafsu kita
pada malam hari, maka patut dipertanyakan, lantas untuk apa saya lelah-lelah berpuasa kalau malam harinya sama saja?
Kemudian, sehabis berbuka, kita bebas untuk makan
dan minum apa saja sepuasnya, namun di sini juga lah kita temukan esensi
berpuasa. Apa itu? Tetap menjaga diri dan tidak berlebihan, serta mengontrol
emosi dan nafsu kita untuk makan dan minum secukupnya. Misalnya ketika
menjelang berbuka, biasanya kita merencanakan akan berbuka dengan apa, dan
tidak jarang saat itu tiba, kita justru diperbudak hawa nafsu kita untuk
memakan banyak makan dan meminum banyak jenis minuman, yang padahal tidak
terlalu diperlukan.
Kita memang bisa makan dan minum, tapi bukan berarti
kita patut untuk berlebihan. Kita boleh senang, dengan berbuka kita bisa
berbincang dengan teman kita seperti biasa, tapi bukan berarti kita patut
berkata yang tidak baik saat puasa (seperti yang sedang nge-tren misalnya : any**g, sialan, b*go,
dan lain-lain).
Puasa tidak sekadar pause untuk tidak bermaksiat,
tetapi juga pengingat kita, bahwa berpuasa justru membebani kita tanggung jawab
untuk menjaga nilai-nilainya. Berpuasa melatih kita untuk senantiasa merasa
diawasi Allah Ta’ala, sehingga kita
meninggalkan sesuatu yang kita sukai, padahal kita bisa saja melakukannya,
karena kita meyakini bahwa Allah mengawasi kita.
Sebab, puasa yang hakiki adalah puasa yang berbuah
ampunan Allah, sebagai bentuk tarbiyah kita, dan puasa membiasakan kita untuk
senantiasa menjaga diri kapan pun dan dimana pun.
“Makna puasa (yang hakiki) adalah puasanya seluruh anggota tubuh dari
dosa-dosa dan puasanya perut dari minuman dan makanan. Sebagaimana makan
dan minum itu memutuskan kesahan puasa dan merusaknya, maka demikian pula
dosa-dosa akan memutuskan pahala puasa dan merusak buahnya, hingga membuatnya
menjadi seperti kedudukan orang yang tidak berpuasa” (Shahih Al-Wabilish
Shayyib, hal.54-55).
“Maka
puasa (yang hakiki) adalah puasanya seluruh anggota tubuh dari
dosa-dosa dan puasanya perut dari minuman dan makanan. Sebagaimana
makan dan minum itu memutuskan kesahan puasa dan merusaknya, maka
demikian pula dosa-dosa akan memutuskan pahala puasa dan merusak
buahnya, hingga membuatnya menjadi seperti kedudukan orang yang tidak
berpuasa” (Shahih Al-Wabilish Shayyib, hal.54-55).
Sumber: https://muslim.or.id/25774-hakekat-puasa-2.html
Sumber: https://muslim.or.id/25774-hakekat-puasa-2.html
“Maka
puasa (yang hakiki) adalah puasanya seluruh anggota tubuh dari
dosa-dosa dan puasanya perut dari minuman dan makanan. Sebagaimana
makan dan minum itu memutuskan kesahan puasa dan merusaknya, maka
demikian pula dosa-dosa akan memutuskan pahala puasa dan merusak
buahnya, hingga membuatnya menjadi seperti kedudukan orang yang tidak
berpuasa” (Shahih Al-Wabilish Shayyib, hal.54-55).
Sumber: https://muslim.or.id/25774-hakekat-puasa-2.html
Sumber: https://muslim.or.id/25774-hakekat-puasa-2.html
No comments:
Post a Comment