Monday, June 12, 2017

Ramadhan, Sebuah Jeda Untuk Mempertemukan Kita dengan Diri Kita

 min huna nabda' was takhta dhilaali 'arsyi arrahman naltaq

Ketika ingin membersihkan rumah yang sangat berantakan dan jorok, yang pertama kita lakukan bukan langsung membersihkan. Melainkan menyingkirkan dahulu barang-barang yang dapat menghalangi kita dari membersihkan rumah. Kita kosongkan dahulu, setelah itu baru kita menyapu, mengepel –selayaknya membersihkan rumah-, dan barulah kita menata barang-barang yang kita inginkan di ruangan tersebut.

...

...

Ketika Nabi Musa ingin berguru kepada Nabi Khidir, Nabi Khidir memberikan syarat. Nabi Musa tidak diperbolehkan mempertanyakan apapun yang dilakukan Nabi Khidir. Kalau ia melakukannya sampai tiga kali, maka Musa harus meninggalkan Khidir. Dan kita tahu, menutup mulut atas perbuatan sang guru tidak mudah, dan Musa melanggar janjinya bahkan sebelum pelajaran dimulai.

Sesungguhnya yang hendak Nabi Khidir sampaikan kepada Musa hanyalah ‘kosongkan pikiranmu’. Sebab tanpa mengosongkan pikiran, membuang ilmu lama, maka akan sulit untuk menerima ilmu dan paradigma baru yang lebih jernih. Jika pikiran kita kosong, maka kita tidak akan mempertanyakan apapun. Kita akan menjadi bodoh, dan menjadi bodoh adalah yang diperlukan saat kita belajar. Mengosongkan pikiran adalah hakikat belajar, untuk menerima apapun penuh kerelaan, tanpa keangkuhan untuk mempertanyakan apapun.

...

...

Brama Kumbara dalam kisah legendaris Saur Sepuh tak pernah kalah melawan siapa pun, bahkan mampu menghancurkan batu karang di lautan sampai hancur menjadi pasir. Namun ketika dia mengadu sakti dengan seorang biksu Tebet bernama Kumpala, Brama Kumbara kalah. Ia kemudian mempelajari Ilmu Lampah Lumpuh, sebuah ilmu untuk mencapai kemampuan mengosongkan segala kekotoran yang ada dalam hati dan pikiran manusia, kemampuan seseorang untuk kembali kepada fitrahnya, kepada hakikat kesuciannya, dan kembali menjadi bayi.

Caranya adalah dengan berpuasa, tidak makan dan tidak minum selama 40 hari. Brama Kumbara pun melakukannya, dan pada hari ke 40, beliau berhasil melewatinya meski kondisinya menjadi sangat kritis. Kekuatan fisiknya telah sama sekali hilang, ia bahkan tidak mampu mengunyah makanan, kecuali air tajin yang setiap hari disuapkan oleh istrinya.

Saat Brama Kumbara ‘kembali menjadi bayi’, dia tidak memiliki iri hati dan dengki, nafsu kotor, dan hasrat ingin mengalahkan. Setelah pelan-pelan kondisinya memulih, dia suatu hari kembali bertemu dengan Biksu Kumpala yang –menjadi satu-satunya orang yang berhasil mengalahkannya-. Namun Brama Kumbara tidak bertarung untuk balas dendam. Ia bahkan menang tanpa mengalahkan. Yang dilakukan Brama Kumbara waktu itu hanyalah menyentuh kepala Biksu dengan lembut, dan si Biksu pun lumpuh. Pertarungan itu tanpa teriakan, kekuatan, dan tanpa hasrat ingin mengalahkan. Kelaparan dan kehausan Brama Kumbara telah membunuh nafsu, dan matinya nafsu adalah hidupnya eksistensi sejati manusia.

...

...

Ramadhan sesungguhnya bertujuan membuat kita kembali kepada fitrah kita, dengan membersihkan hawa nafsu di dalam diri kita. ‘Berupaya menjadi bayi’, mengosongkan segala hasrat duniawi, maka mungkin kita akan menghidupkan kembali yang telah lama mati di dalam kemanusiaan kita.  Allah SWT menciptakan Ramadhan, bisa jadi untuk memberikan kita waktu untuk melakukan hal itu. Mengenali diri, kemudian menemukan eksistensi diri kita. “Kenali dirimu, kau akan mengenal Tuhanmu” kata Sunan Kalijaga. Allah SWT menciptakan Ramadhan karena cinta dan kasihNya, agar setidaknya satu bulan ini saja, satu bulan saja diantara bulan-bulan kesibukan kita yang lain, sebagai jeda sebentar saja, kita mengetahui eksistensi diri, untuk menemukan pengetahuan tertinggi, yaitu menemukan diri sendiri.

No comments:

Post a Comment