Ketika ingin membersihkan rumah yang sangat berantakan dan jorok, yang pertama kita lakukan bukan langsung membersihkan. Melainkan menyingkirkan dahulu barang-barang yang dapat menghalangi kita dari membersihkan rumah. Kita kosongkan dahulu, setelah itu baru kita menyapu, mengepel –selayaknya membersihkan rumah-, dan barulah kita menata barang-barang yang kita inginkan di ruangan tersebut.
...
...
Ketika Nabi Musa ingin berguru kepada Nabi Khidir,
Nabi Khidir memberikan syarat. Nabi Musa tidak diperbolehkan mempertanyakan
apapun yang dilakukan Nabi Khidir. Kalau ia melakukannya sampai tiga kali, maka
Musa harus meninggalkan Khidir. Dan kita tahu, menutup mulut atas perbuatan
sang guru tidak mudah, dan Musa melanggar janjinya bahkan sebelum pelajaran
dimulai.
Sesungguhnya yang hendak Nabi Khidir sampaikan
kepada Musa hanyalah ‘kosongkan pikiranmu’. Sebab tanpa mengosongkan pikiran,
membuang ilmu lama, maka akan sulit untuk menerima ilmu dan paradigma baru yang
lebih jernih. Jika pikiran kita kosong, maka kita tidak akan mempertanyakan apapun.
Kita akan menjadi bodoh, dan menjadi bodoh adalah yang diperlukan saat kita
belajar. Mengosongkan pikiran adalah hakikat belajar, untuk menerima apapun
penuh kerelaan, tanpa keangkuhan untuk mempertanyakan apapun.
...
...
Brama Kumbara dalam kisah legendaris Saur Sepuh tak
pernah kalah melawan siapa pun, bahkan mampu menghancurkan batu karang di
lautan sampai hancur menjadi pasir. Namun ketika dia mengadu sakti dengan
seorang biksu Tebet bernama Kumpala, Brama Kumbara kalah. Ia kemudian
mempelajari Ilmu Lampah Lumpuh, sebuah ilmu untuk mencapai kemampuan
mengosongkan segala kekotoran yang ada dalam hati dan pikiran manusia,
kemampuan seseorang untuk kembali kepada fitrahnya, kepada hakikat kesuciannya,
dan kembali menjadi bayi.
Caranya adalah dengan berpuasa, tidak makan dan
tidak minum selama 40 hari. Brama Kumbara pun melakukannya, dan pada hari ke 40, beliau berhasil melewatinya meski kondisinya menjadi sangat kritis.
Kekuatan fisiknya telah sama sekali hilang, ia bahkan tidak mampu mengunyah
makanan, kecuali air tajin yang setiap hari disuapkan oleh istrinya.
Saat Brama Kumbara ‘kembali menjadi bayi’, dia tidak
memiliki iri hati dan dengki, nafsu kotor, dan hasrat ingin mengalahkan.
Setelah pelan-pelan kondisinya memulih, dia suatu hari kembali bertemu dengan
Biksu Kumpala yang –menjadi satu-satunya orang yang berhasil mengalahkannya-.
Namun Brama Kumbara tidak bertarung untuk balas dendam. Ia bahkan menang tanpa
mengalahkan. Yang dilakukan Brama Kumbara waktu itu hanyalah menyentuh kepala
Biksu dengan lembut, dan si Biksu pun lumpuh. Pertarungan itu tanpa teriakan,
kekuatan, dan tanpa hasrat ingin mengalahkan. Kelaparan dan kehausan Brama
Kumbara telah membunuh nafsu, dan matinya nafsu adalah hidupnya eksistensi
sejati manusia.
...
...
Ramadhan sesungguhnya bertujuan membuat kita kembali
kepada fitrah kita, dengan membersihkan hawa nafsu di dalam diri kita.
‘Berupaya menjadi bayi’, mengosongkan segala hasrat duniawi, maka mungkin kita
akan menghidupkan kembali yang telah lama mati di dalam kemanusiaan kita. Allah SWT menciptakan Ramadhan, bisa jadi
untuk memberikan kita waktu untuk melakukan hal itu. Mengenali diri, kemudian
menemukan eksistensi diri kita. “Kenali dirimu, kau akan mengenal Tuhanmu” kata
Sunan Kalijaga. Allah SWT menciptakan Ramadhan karena cinta dan kasihNya, agar
setidaknya satu bulan ini saja, satu bulan saja diantara bulan-bulan kesibukan
kita yang lain, sebagai jeda sebentar saja, kita mengetahui eksistensi diri,
untuk menemukan pengetahuan tertinggi, yaitu menemukan diri sendiri.
No comments:
Post a Comment