Tahukah anda jika pusat wilayah Menteng diputar 180 derajat, taman suropati menjadi simbol kepala baphomet (lucifer) dengan gedung bappenas sebagai otaknya?
Tahukah anda terdapat patung Hermes, dewa penulis kitab kabbalah yang memegang tongkat simbol persaudaraan di ujung utara jembatan harmoni?
Tahukah anda di depan tangga utama Stadhuis terdapat kotak yang terdiri dari 208 batu yang disusun 13 baris?
Tahukah anda bahwa bila simbol Mc.D di putar 90 derajat ke kiri akan menyerupai angka 13?
Tahukah anda bahwa monas adalah simbol the sacret sextum?
Tahukah anda bahwa lambang VOC dan freemasonry sesungguhnya berasal dari simbol hexagram?
Dan masih baaaanyakkkk banget fakta-fakta menarik dan amat mengejutkan yang dipaparkan dalam novel The Jacatra Secret. Sesuai tagline nya "misteri simbol satanic di jakarta".
Berikut sinopsisnya yang tertulis di belakang buku.
Cerita dibuka dengan adegan Prof. Sudrajat yang terbunuh di Museum Sejarah Jakarta, dengan petunjuk terakhir yaitu tulisan berdarah "as at dutch". Dari sinilah petualangan Dr. Grant dan Angelina yang cantik jelita (seperti yang sering kali ditegaskan dalam novel. Angelina itu cantik
Semua materi tentang mister satanic jakarta dipaparkan dengan mudah dipahami dan menyenangkan. Bahkan setiap membaca novel ini saya serasa membaca pemaparan ala Dan Brown.
Tapi, yap. Sayangnya plot dalam cerita ini seperti mentah-mentah meniru The Da Vinci Code oleh Dan Brown. Tokoh-tokohnya pun AMAT tidak berkarakter. Pengisahan terasa sangat dipaksakan dan kaku. Dan saya acapkali geli dengan kisah cinta dalam novel ini (oh, oh, kenapa mesti begini romance nya sih?). Begitu juga beberapa sindiran Om Rizky terhadap aparat kepolisian dan kurangnya upaya pemerintah menjaga warisan sejarah yang dirasa kurang pas dalam novel ini.
Sehingga dengan kata lain, petualangan Jhon Grant dan teman-temannya hanya sebagai media om Rizky Ridyasmara untuk memaparkan fakta-fakta. But well, untungnya, semua kekurangan itu terbantu oleh hal ini. Walhasil buku ini tidak terasa seperti novel, tapi buku sejarah.
Rate? Fakta-fakta yang dijabarkan sungguh sangat mengasyikkan. Dengan baca buku ini saya bertambah pengetahuan amat banyak tanpa mengabaikan cerita yang menurut saya amat buruk.
Okedeh, rate saya....
7,5/10!
Apakah saya bakal baca buku-buku Om Rizky Ridyasmara lainnya lagi? Absolutely!
Mengakhiri review kali ini, saya akan menuliskan bagian terfavorit saya dalam buku ini. Syair Masonik berjudul the Builders.
Kulihat mereka meruntuhkan gedung,
Sekelompok manusia yang di kota yang sibuk;
Dengan gerak serempak dan sorak gembira,
Diayunkan balok dan dinding pun tak bersisa,
Kutanya pada Mandor "apakah mereka cekatan andaikan disewa untuk meraga?"
Dia tertawa dan menjawab, " ya, tidak, tentunya pekerja biasa pun dapat melakukan.
Aku dapat membongkar sehari dua
Yang pembangun diriku berjangka setahun."
Aku berpikir seraya menjauh,
Peran apa yang sekarang kupegang?
Apakah aku yang cermat?
Mengukur hidup dengan mistar dan siku?
Apalah dayaku mengikuti rencana cita,
Sabar melakukan yang terbaik yang kubisa?
Ataukah aku tukang bongkar di kota,
Puas dengan hanya menghancurkan yang ada?
catatan gak penting banget : walopun saya yakin om Rizky sudah memaparkan sejarah di buku ini dengan bahasa paling ringan, bagi bocah ingusan seperti saya yang masih 17 tahun, saya mesti bolak balik baca ulang karena kurang tanggapnya otak saya yang tumpul ini haha.




No comments:
Post a Comment