Friday, November 14, 2014
Kisah Yang Cepat Berlalu
"Ayah nanya, kapan dikenalin? Abang jadi sedih". Begitu isi sms nya. Aku pun sedih, jujur, tidak tega membuatnya menunda-nunda menikah karena mencintaiku, perihal usianya sudah sangat matang. Sudah seharusnya dia merencanakan pernikahan. Aku? Jangan tanya. Jangan tanya. Tidak mungkin dia mau menungguku. Tidak mungkin aku menunggunya mapan. "Aku gak tega, mau kucarikan?" tanya saat dia telpon. "Gak usah repot-repot, mau sama kamu dulu". Bahagia sekali aku. Siapa yang tidak berbunga-bunga ketika kau menyimpan rasa selama hampir setahun, ternyata diam-diam dia membalasnya, malah dia yang lebih menyukaimu. Siapa yang tidak berbunga-bunga hatinya saat dipuji oleh sang pujaan? Saat dia meluangkan waktu sibuknya untukmu? Tapi tetap saja, sampai kapan? Itu pertanyaan yang selalu terngiang diantara kami, tapi tak pernah berani kami ucapkan. "Abang sayang dan mencintaimu, coba kalau kamu udah gede, udah abang nikahin"
"Sepertinya kita sudah terlalu jauh, dan saya tidak mau terlalu jauh" katanya saat menjelang pagi tanggal 16 agustus 2012. "Aku juga berpikiran seperti itu" "oh, kamu juga?". Aku diam... "aku sedih, itu pasti. Aku cemburu pastinya, tapi kau punya kepentingan yang lebih. Abang harus segera menikah". Kataku dengan santai. Kupikir aku tegar. Aku senang kami mengakhiri ini, tak ada lagi sembunyi-sembunyi saat bertemu, saat dia menelepon agar tidak ketahuan oleh Mamaku. Kukira. Kukira. "Itu yang bikin abang susah ngelepas kamu". Aku menghela napas... Dan kami berpisah baik-baik. Berpisah? Bertemu saja belum tentu seminggu ada. Apa yang dipisah? Aku kira aku senang. Kukira. "Makasih udah jadi peri kecil abang, nemenin abang 2 tahun ini". Aku menghela napas lagi, "aku selalu mencintaimu", kataku sambil tertawa. Aku kira aku senang. Kukira.
"Kami sudah sepakat untuk ke jenjang lebih jauh". Aku serasa disiram satu drum air es, sambil ditusuk hatinya.
"Abang... Jangan pergi... :'( aku rindu, rindu sangat..." aku tak mampu menangis, tangisanku sudah habis sepertinya. Aku tidak mengatakannya, hanya tersimpan dalam hati. Tak berani kubilang langsung. "Aku rindu" ku menggigit bibir, menunduk, memegang tangannya tanpa sengaja. Dia membalas eratan tanganku. "Abang udah mau nikah". .........
Aku hancur... Aku hancur... "Coba lupakan abang ya". Aku hancur... Jangan pergi, tolong... Aku butuh...
Dia menggenggam erat tanganku. "Abang senang kalau kamu senang" dia menaruh tanganku ke dadanya. Aku tersenyum sakit. "Bahagia ya?". ...... Sungguh, aku jatuh.... Aku hancur... "Abang pergi ya?". Aku menatapnya, walau tak berani melihatnya mengacu motornya pergi. "Bang, makasih". "Abang sayang kamu", kemudian dia berputar, dan melaju. Aku mau teriak, Bang jangan pergi! Tapi dia sudah belok. Dia hilang. Hilang. Dia pergi. Aku terduduk di jalan itu. Aku lemas. Aku jalan menuju Masjid dekat sekolah. Aku duduk, sujud. Menangis sejadi-jadinya. Tak ada yang bisa kukatakan. Tak ada. Dia hilang sudah.
Hilang.
Mendadak kami lost contact. Dia menghilang, sungguh! Aku tak mau kami berpisah yang kedua kalinya dengan ribut! Aku mati-matian menelepon dia, sms dia berpuluh kali dalam sehari. Menangisinya dalam tidur. " :) kita nggak ribut kan?" katanya akhirnya saat menjawab teleponku. Kemudian telepon kembali mati. Ku sms "maaf...". Dan sejak itu tak pernah lagi kami berhubungan...
Aku sakit. Harus operasi usus buntu secepatnya, padahal suka pedas saja tidak. Aku sering mengalami nyeri di perut. Siklus haidhku mendadak tidak teratur. Keningku penuh jerawat tiba-tiba. Wajahku mendadak seperti orang nak mati. Mendadak suka menyendiri. Itu kata teman-teman. Setiap malam aku menangis, tidur memimpikannya, atau minimal tidur tanpa mimpi. Setiap hari. Mendadak aku mencari perhatian semua orang. Mendadak segala hal mengingatkanku padanya. Mendadak semua kalimat yangkuucapkan mengarah pada arti sepi. Mendadak aku bersikeras bersembunyi darinya. "Kemana? Katanya akan tetap jadi kawanku?" "Abang peduli, sungguh" "Bohong! Mana buktinya??" Dia tak pernah lagi membalas. Sama sekali.
"Titip ya" kataku ke salah satu temannya yang kupercaya. "Berapaan ini?" "200ribu, pake uang tabungan, lho. Hehe. Oh ya tolong titip surat ini". "Oke, sip". Aku tersenyum lega, senang. . Temannya bertanya "kau tak datang?". Aku tersenyum menggeleng. "Aku takut gak kuat. Tapi aku akan menginap di Masjid Raya bersama adik-adik di acara MABIT". "Titip salam untuknya dan isterinya. Lihat-lihat fotonya, ya", lanjutku.
"Hey" sms si kawan. Aku masih di masjid pagi itu. "Waktu aku memberi kado ini, dia menyuruhku untuk menyampaikan ini padamu" "apa?" "katanya, jaga kesehatan. berbahagialah, jaga dirimu".
Aku menangis
"Maaf aku berburuk sangka. Barakallahu lakuma wa baraka alaikuma"
"Isterinya hamil" kata si kawan lewat sms, kala itu aku sudah menjelang masuk SMA. Aku memeluk guling. Aku menangis sejadi-jadinya. Menghidupkan musik sekeras-kerasnya.
----
"Jadi apakabarmu? Selama ini?" kataku, sambil menatap kekosongan, tak berani menatapnya. "Bahagia ya? Aku juga, aku jadi kuat. Hehehe". Kataku, tak berani melihatnya, malu aku.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

akhirnya, milih judul ini y dek, kalau boleh tau kenapa memilih judul ini dek?
ReplyDeletekarena aku gak tau mau pake judul apa, dan karena ini usulannya kak sarni hahaha
ReplyDelete