Monday, September 14, 2015

A day in my life, something that i didn't prepare for.

Hari ini, aku membayar semua hutangku. Aku memutuskan untuk melunaskannya dan hanya menyisakan 2 ribu rupiah saja, untuk bayar ongkos pulang.

Di dalam busway, terjadi hal yang membuatku gundah, sekaligus menguji kemurnian hati.

Sang konduktor tiket tiba-tiba berteriak dari luar supaya pintu belakang bis dibuka. Dan dia memasukkan seperangkat alat musik tradisional yang jelek hendak dijual. Besar sekali alat itu, kulihat. Kemudian si pemilik alat musik tersebut pun datang dari pintu depan.

Seorang kakek. Dan dia pun masuk. Kuperhatikan, dia tidak mengenakan alas kaki.

Aku jadi termenung. Rasanya kalau saja sepatu yang kupakai sekarang adalah sepatu lama, atau misalkan aku membawa sendal, pasti akan kuberikan ke dia.

Sepanjang jalan aku membayangkan bagaimana caranya agar bisa memberi dia alas kaki, selain alas kaki yang kupakai sekarang. Bukannya pelit, nanti mamaku ngomel aku kasih sepatu sekolah ke kakek kakek.

Atau... andai saja aku tadi tidak membayar hutang, pasti uangnya akan kuberi ke beliau. Apapun itu, yang bisa aku bantu... Seandainya saja aku tau...

Aku membayangkan, bagaimana kalau aku minta mamaku bawa sendal ke halte, terus baru kukasih sendal itu ke si kakek? Aku terus memikirkan bagaimana caranya membantu beliau sedikit.

Tidak lama kemudian, sementara aku masih bertanya-tanya dimana dia akan turun... dia pun turun.
Aku melihatnya keluar, dan hilang, tanpa sepatah kata pun yang sempat terucap. Aku memandanginya bahkan sampai dia hilang.

This is something that i didn't prepare...

No comments:

Post a Comment