Ini hari minggu pagi. Aku memutuskan mengajak dia jalan-jalan ke alun-alun.
Kuparkir motorku di depan rumahnya. Tidak lama kemudian, dia pun keluar. Dengan senyumnya yang merona, dia menyapaku. "Pagi, Put". Kubalas senyum, "Pagi". Dalam hati, aku menjawab, Pagi, gadisku. Dia melangkah, bersiap menaiki motorku. "Jadi mau kemana kita?", tanya nya antusias.
"Ada deh, liat aja"
"Hmmm oke deh".
Kami pun melaju sampai ke alun-alun. Aku mengenalnya sejak dua tahun terakhir. Sejak awal, dia memang gadis yang berbeda. Dia, ciptaan Tuhan yang paling indah. Dan kami sudah dekat setahun ini. Aku menyukainya, tapi kutahan, karena pada dasarnya perempuan gak suka hal yang terburu-buru. Aku takut mendengar kata "kita temenan aja ya". Jadi, kuputuskan menikmati hubungan ini, pertemanan ini.
"Put, aku mau kerak telor, kesana yuk". Katanya manja, seperti biasa, kalau ada keinginan. Bagaimana mungkin aku menolaknya?. "Gak usah, disini aja, aku yang kesana" kataku. Dia kemudian menatapku, "Serius?" "Iya, tunggu ya". Dia pun duduk manis.
Saat aku kembali, aku melihatnya sedang telfonan. Tapi, dia tidak sadar dengan kehadiranku. Saat dia melihatku, dia kemudian berpamitan dengan orang ditelepon tersebut, dan mematikan telfonnya. Tapi aku tidak mau bertanya apa-apa, saat ini cukup lah quality time antara kami berdua. Kami menghabiskan pagi berkeliling daerah Nagoya, dan dia terlihat senang dan... Cantik sekali...
"Makasih ya put. Seneng banget bisa jalan-jalan gini". Katanya tersenyum saat aku mengantarnya pulang. Aku tersipu, oh astaga, cantik sekali dia. "Maaf ngerepotin, kalo ngerepotin minggu depan gak usah--" buru-buru langsung kupotong. "Eh enggak kok, nggak ngerepotin. Aku seneng kamu seneng..." aku mengatakannya sambil merunduk. What? What did i say? Aku seperti orangpaling longor, bagaimana mungkin aku ngegombal begitu?
Tapi, dia gadis yang berbeda. Dia tidak malu, malah tertawa mendengarku. "Haha, lucu deh Putra. Yaudah, makasih ya Put". Dia pun masuk ke rumahnya. Aku menstarter motorku, bersiap-siap pergi. Ah, padahal kuharap bisa lebih lama. 4 jam tadi itu terasa cuma 1 menit! "Eh, put!" teriaknya tiba-tiba. "Hati-hati!". Aku tertegun, salah tingkah. "Dah, Moza". Aku langsung pergi.
YES!!! Hari ini nge datenya berhasil! Aku sudah membuat perencanaan yang matang sekali sebelum menyatakan perasaanku. Ini baru langkah pertama, yes yes!!!
Kamisnya, aku bertandang ke rumah dia. Ini hari ulangtahunnya. Spesial sekali, saking spesialnya, aku sampai berkeliling ke mall-mall di Batam untuk mencari syal merk RB untuk dia, dan rela tidak jajan berhari-hari demi menabung untuk membeli syal itu. Sungguh mahal sekali syal itu.
Dia kemudian datang, dan duduk di depanku. Jantungku berdebar... Astaga, aku sudah menyiapkan kata-kata dan ucapan ulangtahun, kenapa jadi lupa semua?
Dia tersenyum, "mana kadoku? Hahaha". Dia, selalu menyairkan suasan hatiku yang beku, beku karena senyumnya. Dia memang berbeda.
Aku pun menyodorkan kado itu. Dia tertawa menerimanya, "kamu laki-laki nomor dua yang ngasih kado". Aku tertegun. Nomor dua? Apakah.... Ah, tentu saja ayahnya lah yang pertama, dasar bodoh. Aku hanya tertawa pelan, deg-degan, apakah dia akan menyukainya? Dan apa yang harus kukatakan setelah ini?
"Coba buka" kataku tiba-tiba. Eh bodoh, kenapa aku suruh dia buku sekarang, ah bodoh. Dia tertawa senang, kemudian membukanya. "Wah syal cokelat, makasih Put!". Aku langsung lega, hah... "Coba pakai". Dia tersenyum, dan memakai syal itu. Astaga, Tuhan, bagaimana mungkin kau ciptakan mahluk seindah dia? "Makasih Put, aku suka banget!".
Tuhan, aku seperti melayang... Boleh aku pingsan sejenak?
Langkah kedua sudah sukses. Tinggal satu langkah lagi, dan aku berjanji akan menyatakan perasaanku.
Saatnya langkah ketiga. Sms pendekatan.
"Kosong rasanya, Moza". Aku memulai, setelah terhitung 10x mengetik dan kuhapus lagi.
Kutunggu... 2 menit... 3 menit... Ah, ini dia balasannya. "Apanya? Ini siapa?". Aku langsung membalas, "Ini Putra. Ya kosong aja, malam gini enaknya kan kalo ngeliat bintang-bintang ngeliatnya gak sendirian". SEND. Eh eh eh, kok aku send pula? Bodoh. Aku hendak membanting hape, ahhh tolol! Tiba-tiba dia membalas, "ohhh jadi minta ditemenin? wkwkwk :P ".
Suasana hatiku langsung mencair. Dia... Sungguh berbeda.
"Emang kamu mau?" balasku. 2 menit kemudian dia membalas, "Malesss :P ". YES!!! Percakapan kali ini lancar, sukses, YES!
Langsung kusiapkan balon pink dan surat beramplop pink yang sudah kusiapkan jauh hari. Besok, aku akan menyatakan perasaanku, sungguh.
Besoknya, aku datang ke rumahnya sudah mengikat balon di motor dan membawa surat cinta itu. Bahkan kumasukkan dalam kotak, supaya tidak terlipat. Aku berencana memberikan surat ini ke dia. Akan kubiarkan dia membukanya di depanku. Kalau dia terima, akan kuberi balon ini. Kalau dia tolak, akan kuterbangkan balon ini.
Mak, doakan anak bujangmu ini ya mak...
Dia pun keluar dari pintunya, tersenyum. "Hey, Put". Aku balas senyum, "hai juga, Moza". "Sini, duduk, aku udah siapkan teh buatmu". Apa? Dia sudah menyiapkan? Hidungku mengembang, wajahku memerah, Mak, doakan aku Mak. "Sini, Put, aku mau cerita, penting". Aku pun duduk di sampingnya, dibatasi meja kecil. Biarkanlah dia bercerita dulu. Dia kemudian mendekati kepalanya, dan berbisik.
"Tapi jangan bilang siapa-siapa ya?". Aku mengangguk. "Put, sebenarnya aku sudah punya pacar, sudah 2 tahun, Put".
.........
Apa?
"Kami backstreet, dia itu sekian tahun lebih tua daripada kita. Makanya aku belum berani ngasih tau orangtua".
Aku terdiam. Beku. Kepalaku terasa seperti disiram segalon air es, saat bersamaan, hatiku terasa tertusuk sesuatu. Sakit.
"Terus, aku hampir ketahuan, Put. Mereka jadi curiga sekarang, jadi aku mau minta tolong sama kamu. Pura-pura jadi pacarku sementara, boleh ya?".
Bibirku kelu, beku. Aku terpaku... Tapi harus bicara, semua harus jelas. "Bukankah... Orangtuamu taunya kita temenan?". Dia menghela nafas. "Putra, dimana-mana, nggak ada yang namanya cewek cowok temenan itu 100% temanan. Pasti ada sesuatu, Put".
Aku... Tak tau mau bilang apa.
"Nanti, kalau sudah aman, kita pura-pura putus lagi aja. Nanti kukenalkan sama pacarku, ya". Aku masih... Membeku... "Tapi kamu baik banget sama aku, apa pacarmu gak marah?" Kataku pelan.
"Hahaha, Put, pacarku tau kok soal kamu. Aku sering cerita. Dia tuh ngertiin aku banget, makanya aku sayang banget sama dia. Dia gak papa kok aku temanan sama cowok. Lagian, aku tuh seneng tau punya sahabat cowok kayak kamu!".
Aku terdiam. Aku berpura-pura, melihat handphone. "Eh, maaf, mamaku suruh aku pulang, adikku sakit. Aku duluan". Aku langsung mengambil helm dan menaiki motor. "Eh, Put, tapi--". Aku langsung melajukan motorku kencang, tanpa sekalipun menolehnya. Sekalipun.
Dia memang beda, dia tau tidak ada yang 100% berteman saat seorang laki-laki berteman dekat dengan perempuan.
Dia. Tau. Itu.
No comments:
Post a Comment