Sunday, April 19, 2015

Review Film Devdas

Aaa.... barbie habis nangis, gara2 nonton devdas cry emotikon Beneran deh gak bisa ngomong apa2, speech less banget. Film ini emang gak menguras air mata sepanjang film, tapi mampu membuat tenggorokan saya tertahan, berkali2 saya menahan nafas melihat scene-scenenya. Ouhhh my! Best bollywood ever! Dan scene terakhir mampu membuat saya menangis galau frown emotikon
Ih, emang apa sih ceritanya?



Oke, film Devdas mungkin mirip-mirip ceritanya sama film RamLeela, atau Di Bawah Lindungan Ka'bah,. Kisah cinta tragis, konflik keluarga memang telah banyak. Tapi tetap saja rasanya mampu mengaduk perasaan siapapun yang menontonnya.
Bagi yang sudah baca novel atau nonton film2 yang di atas mungkin udah kebayang kali ya ceritanya.

Devdas dan Paro sudah menjadi teman dekat sejak kecil, selalu bersama-sama sampai suatu saat Dev diharuskan berangkat ke Inggris selama 10 tahun. Tentu membuat Paro sangat sedih dan merindukan Dev. Paro pun melambangkan cintanya pada Dev yang tidak akan mati dan terus menunggu Dev dengan menyalakan lilin.

Sampai akhirnya Dev pun kembali, tapi memutuskan untuk bertemu Paro dulu sebelum pulang ke rumah. Hal ini lah yang membuat ibunda Dev sempat marah besar.
Karena melihat Dev dan Paro sedang mabuk cinta, ibunda Paro pun melamar ke keluarga besar Dev. Tapi justru ditolak mentah-mentah dan dicaci di depan orang ramai, mengingat status mereka yang sangat beda jauh. Keluarga Dev sangat kaya, beda dengan keluarga Paro. Ibunda Paro pun dendam dan bersumpah Paro akan menikah dengan laki-laki yang lebih bermatabat dan kaya dibanding keluarga Devdas.
Benar saja, Paro yang sakit hati pun mengiyakan lamaran seorang duda kaya raya. Dev pun rapuh dan pergi ke rumah bordil, di sanalah ia bertemu seorang pelacur yang sudah sangat terkenal, cantik, pintar dan mempesona bernama.... Duh lupa, ya gitu lah. Tak disangka ternyata si pelacur malah jatuh cinta pada Dev, padahal dia sendiri tau Dev sedang hancur dan tergila-gila pada Paro *soalnya Devdas berkali2 ngomongin soal Paro ke si pelacur ini*.

Dev kembali ke rumah Paro, ternyata Paro sedang mempersiapkan diri untuk prosesi pernikahannya sebentar lagi, tentu dengan hati yang sangat sedih. Mereka pun bertemu, bahkan...
Aaaaaa ini memorable scene nya! Sakit!

Dev mengantar Paro ke keramaian. Kemudian Paro yang sedang berada di dalam tandu, dan Dev membuka tirai untuk pamit. Bahkan Dev ikut mengangkat tandu tersebut ke tempat prosesi. Yang di dalam pun menangis sejadi-jadinya. Saat Dev pergi, Paro mengeluarkan lilin, menunjukkan bahwa cintanya pada Dev tidak akan mati. Aaaa sakitttt..... frown emotikon

Paro pun akhirnya menjadi istri saudagar, tapi hubungan Paro dan suaminya mereka masih canggung, bahkan mereka tidak berhubungan intim di malam pertama.
Dev yang semakin frustasi pun mulai mabuk-mabukkan, dan hubungannya dengan si pelacur semakin dekat, walau Dev terus membicarakan tentang Paro.
Ketergantungan Dev pada alkohol semakin menjadi. Sampai akhirnya, ayah Dev yang sangat kasar pun sakit-sakitan. Paro yang sama sekali tidak dendam pun menjenguknya di saat-saat terakhirnya, dan terlihat bahwa ayah Dev sangat menyesal atas kepergian Dev.
Dev pun datang ke prosesi pemakaman ayahnya dengan keadaan mabuk, hal ini membuat Paro miris dan mendatanginya untuk memintanya berhenti minum. Saat inilah Dev mengatakan, bahwa sebelum mati, dia akan berada di depan rumah Paro.

Singkat cerita, Dev makin terpuruk, si pelacur juga tidak mampu mengubah Dev. Tetapi Paro sangat menghargai dan menghormati si pelacur, dia mengungkapkan senang bahwa berarti Dev tidak akan kesepian. Ohhh... Aku terharu frown emotikon

SPOILER ALERT!!!
Singkat cerita, Dev sakit karena terlalu banyak minum alkohol, dan akan segera meninggal dunia kalau masih minum. Seolah sudah meramalkan kematiannya, Dev berpamitan kepada si pelacur dan ia sangat sedih. Dev pergi ke kota tempat Paro tinggal. Bodohnya di perjalanan dia malah masih minum. Dan...

Ini the most memorable scene, Dev yang sekarat pun berbaring di depan rumah Paro. Paro awalnya masih bingung dengan feelingnya, sampai saat ia menyadari itu adalah Dev...
Paro berlari menuju Dev, tapi sesaat sebelum hampir keluar, pagar pun di tutup. Dev saat itu juga pergi selama-lamanya dan Paro yang tidak berdaya pun menangis sejadi-jadinya di gerbang... saya juga cry emotikon

Oh dear, hanya beberapa langkah lagi saja mereka bertemu frown emotikon

Sekilas, film Devdas ini adalah adaptasi kedua setelah sebelumnya juga ada film Devdas hitam putih, tapi jaduullll amat tahun 1955, lebih awalnya di tahun 1917 malah kalo ga salah. Buset, nenekku belum lahir tuh.

Konon film ini adalah film dengan anggaran paling mahal diantara film-film india lainnya kala itu. Daaan yap! Sejak awal saya sudah terkagum-kagum melihat rumah Paro yang katany orang miskin, tapi udah kayak Hotel tau gak sih rumahnya. Rumah Dev apalagi, wah wah wah, semua rumah di film ini bener2 mewahhh. Belum lagi saya yang sering bergumam, "cantik banget kostum2nya"... Film ini terasa hampir sempurna didukung akting para pemain utamanya yang memukau. Si cantik Aishwarya Rai, yang berhasil membuat saya iri dengan kecantikannya. Midhura Dixit yang konon katanya aktris paling jago nari di India, eh ini film pertama Midhura Dixit yang saya tonton, dan langsung kagum dengan pesonanya. Dan tentu saja akting Shah Rukh Khan yang sangat cemerlang!

Hanya saja mungkin yang agak sedikit menggantung di film ini, bagaimana kelanjutan kisah dari saudara Dev yang memperebutkan harta warisan, endingnya tidak dijelaskan.
Over all, film ini adalah film india terbaik yang pernah saya tonton selain Once Upon A Time In India, My Name Is Khan dan 3 Idiots.

Good job om sanjay leela!

No comments:

Post a Comment