“Ayah pulang!!” teriak Adi kecil sambil berlari menuju ayahnya di depan rumah. “Ayah pulang!!” Adi masih berteriak saat dipeluk ayahnya yang baru pulang dari Bali. Ayah tertawa melihat tingkah anaknya, “aku juga merindukanmu…”. Ibu hanya tersenyum, dia lalu menyiapkan teh.
Mereka berkumpul di teras depan
rumah. Duduk berdampingan dan Ayah memangku Adi. Sambil menyeruput teh mereka
berbincang-bincang tentang perjalanan Ayah.
“Penduduk Bali sangat ramah.
Pemandangan sangat indah, budaya lokal di sana juga masih sangat kaya. Suatu
hari nanti, kau yang akan membawa orangtuamu ini pergi ke sana, Adi. Bekerjalah
dengan giat supaya kau bisa mengumpulkan uang” kata ayah hangat menasehati. Adi
yang polos menjawab “tapi ayah sudah punya banyak uang, yah. Buat apa aku
bekerja kalau ayahku sudah kaya?”.
Ibu takzim mendengarkan. Ayah
melanjutkan, ”Nak, seorang ayah yang baik adalah ayah yang berhasil mendidik
anak-anaknya untuk menjadi anak yang mandiri. Uang yang ayah punya bukan supaya
kau menjadi manja, tapi supaya kau tidak kesusahan dan melihat usaha ayah”. Adi
masih kecil, hanya mengerti bahwa maksud ayahnya adalah harus bekerja giat
supaya dapat uang banyak, dan dia kalau dia tidak ikut bekerja maka keluarga
akan jatuh miskin.
Ayah menyeruput teh lagi dan melanjutkan.
“Dan Adi, untuk menjadi orang sukses
itu pasti akan mendapati banyak cobaan dalam hidup. Termasuk kesedihan dan
kehilangan. Yang harus kau lakukan adalah pantang menyerah, terus melakukan
yang terbaik dan kau harus merelakan hal buruk yang terjadi”.
Ibu tersenyum, menggenggam tangan
Ayah.
Adi menyeruput teh miliknya, tapi
genggamannya licin dan gelas terjatuh sampai pecah.
PRANG!
Ibu dengan sigap langsung memungut
beling dan kepingan kaca. “Adi! Hati-hati! Kamu ceroboh sekali, sih!” kata Ibu.
“Adi minta maaf, tidak sengaja…” katanya dengan menyesal. Ayah yang bijak
kemudian berkata, “Nak. Sini ayah beritahu. Kau mungkin punya teman, sahabat,
atau pacar nantinya. Mereka adalah orang-orang yang akan menemanimu, tapi hanya
sementara, percaya lah. Sedangkan orangtua, adalah keluarga dan mempunyai
ikatan darah. Ingatlah, selamanya keluarga akan terus menjadi milkmu dan kau
milik mereka,saling mengisi. Karena nya sesalah apapun kamu, orangtua akan
selalu memaafkan. Kau hanya perlu terus mengerjakan yang terbaik, Adi. Paham?”.
Ayah kemudian mengelapi ingus dan tangisan Adi. Ibu yang tadi memungut sampah
langsung terdiam melihat Ayah, kemudian tersenyum dan menyeka sudut matanya.
***
Adi tumbuh dewasa, tapi dia tetap
seperti anak yang sangat senang menghabiskan waktu bersama ayahnya. Ayah yang
keren! Mereka masih sering nge-teh, dan ayah biasa memberi wejangan pada Adi
saat nge-teh.
Sampai tiba saatnya. Saat seorang
anak akhirnya meninggalkan rumah untuk mengejar mimpinya. Hari ini adalah hari
yang sangat istimewa! Adi baru saja lulus kuliah!
“Hahaha… Anakku sudah jadi orang!”
kata ayah sambil memeluk Adi, tubuhnya sudah lemah, wajahnya mengkerut dan
rambutnya sudah memutih, begitu juga Ibu. Meski begitu, mereka terlihat begitu
tampan dan cantik di hari ini. Sedang Adi, tumbuh menjadi anak yang kuat, sehat
dan baik.
“Ayo kita rayakan bersama keluarga
besar!” kata Ibu. “Aduh, mau ngapain bu?” kata Adi mengeluh, dia lelah setelah
seharian berpelukan dengan teman-temannya. Ayah nyeletuk, “Kita nge-teh!”. Ibu
memperingatkan, “baru saja semalam :/ Tapi ayolah”.
Suasana keluarga itu sangat bahagia
dan penuh sukacita.
***
Adi kemudian mendapatkan pekerjaan
di luar kota dengan prospek yang tinggi.
Adi dan orangtuanya sudah berada di
bandara, bersiap melepas Adi untuk pergi. Andi memeluk kedua orangtuanya sambil
menitikkan air mata, begitu juga ibu. Ayah tidak ingin menangis, hanya akan
membuat anaknya semakin berat untuk pergi.
“Pak…” kata Adi sendu.
Ayah kemudian melihat wajah anak
semata wayangnya tersebut. “Jangan lupa makan, jaga kesehatanmu juga. Jangan
pantang menyerah, nak”. Kata Ayah akhirnya.
Adi tersenyum sedih, merangkul
ayahnya kemudian masuk ke ruang tunggu sebelum ia akhirnya melambaikan tangan.
***
Sudah 4 tahun sejak kepergian Adi,
dan mereka masih belum pernah bertemu. Adi hanya rutin menelpon orangtuanya.
Dan ayah mulai sakit dengan tubuh tuanya.
“Adi, ayahmu…” Ayah langsung
mengambil telepon dari Ibu, memotong omongan ibu.
“Nak, bagimana kau di sana?”Ayah
bicara susah payah menahan batuk
“Syukurlah. Kau jangan pulang dulu
sebelum membawa istri!” kata ayah becanda.
Yang di telpon protes.
“Tidak, pokoknya jangan pulang”
Ibu menangis melihat Ayah yang terus
menutupi penyakitnya itu. “Sudah ya, ayah mau istirahat”.
Ayah langsung mematikan telepon.
Yang ditelpon bingung, tapi memilih menganggap semua baik-baik saja.
Ibu juga protes, “kenapa yah? Sudah
3 tahun sejak dia pergi, tidak apa dia melihat keadaanmu? Kenapa kau keras
kepala sih?”
Ayah, seolah tau sesuatu di masa
depan. “Sakitku sudah parah, percuma membuang uang untuk mengobati. Lebih baik
dia menabung untuk membangun rumah yang layak bagi keluarganya nanti. Seperti
yang dulu kulakukan padamu”. Ibu menangis, tidak membalas apa-apa. “Tolong
buatkan aku teh. Ayo nge-teh denganku” ajak ayah sambil batuk-batuk.
Sampai suatu hari, sakit ayah sangat
parah. Seolah tau masa depan, dia berkata di pembaringannya, “Istriku, aku akan
segera mati. Tolong kau panggilkan Adi kemari, aku ingin nge-teh dengannya
sekali sebelum aku pergi”. Ibu menangis terisak, siapa yang tidak sedih saat
teman hidup, kekasih, dan orang yang paling dicintai pamit untuk pergi
selama-lamanya?
“Lupakan dengan semua pekerjaanmu
itu, kau harus pulang sekarang!!”
“Kenapa, bu???” Adi mendesak
“Ayahmu sekarat, Adi!”
***
Ayah berbaring di Rumah Sakit,
segera tertawa terharu melihat anaknya pulang. “Mana istrimu???".
“Ayaaahhh… Kenapa tidak bilang ayah sakit?” Adi memeluk ayahnya, tidak menanggapi gurauan.
“Ayaaahhh… Kenapa tidak bilang ayah sakit?” Adi memeluk ayahnya, tidak menanggapi gurauan.
“Ayo kita nge-teh?” kata ayah. Adi
mengusap airmatanya.
Aroma teh menyeruak lembut di
ruangan. Ayah menyeruput tehnya,”nikmat sekali… Akhirnya bisa nge-teh juga
denganmu”. Adi tersenyum, menggenggam tangan ayahnya setelah meletakkan gelas
teh ayah ke meja.
“Maafkan Adi tidak menjenguk ayah 3
tahun ini” kata Adi akhirnya
Ayah tersenyum, mengelus rambut Adi.
Dia puas melihat anaknya sudah menjadi pria dewasa yang matang sekarang.
“Orangtua selalu memaafkan anaknya, karena keluarga itu abadi, Nak… Peluk orang
tua ini?”.
Tangisan Ibu langsung pecah, hati
Adi terasa sangat berat. “Jaga ibumu baik-baik, ya. Segera lah punya anak
supaya ibumu tidak kesepian. Ayah sayang kalian”.
Ayah pun meninggal dunia dengan
tenang dalam pelukan keluarganya.
***
“Hei, Mas Adi, sudah selesai?” sapa
Bram, salah seorang staf Adi.
“Sebentar lagi nih, Bram”
“Nge-teh yuk?”
“Duh, ngopi saja ya?”
“Iya deh, kali ini kutraktir”.
Pelayan pun mengantarkan kopi
pesanan mereka.
“Jadi bagaimana pernikahanmu nanti,
Adi?” Bram membuka pembicaraan.
“Hanya sederhana, Bram”.
Tiba-tiba Adi mencium aroma teh susu,
ternyata seorang pelayan mengantarkan teh di belakangnya.
“AH!!” Adi tiba-tiba emosi, dan
langsung berjalan cepat menjauhi aroma tersebut meninggalkan Bram.
Bram mengejarnya, “Kenapa Adi???”.
Adi terlihat marah. “Jangan lagi
bawa aku ke sini, aku tidak mau menghirup aroma teh apapun itu!”
“Kenapa?”
Mereka kemudian duduk di depan
kantor.
“Aku memiliki kenangan yang indah
dengan ayahku, Bram. Hampir semuanya ditemani teh sialan itu. Ayahku kemudian
meninggal setelah pertemuan pertama kami. Sudah tiga tahun aku sibuk bekerja
sampai tidak sempat pulang. Sejak ayahku meninggal, aku membenci teh itu… Aroma
wanginya mengingatkanku bahwa aku telah meninggalkannya selama itu. Aku selalu
menyesal, Bram” kenang Adi. Sahabatnya Bram hanya diam dan menepuk pundak Adi.
***
“Ibu!! Aku tidak mau ada acara
nge-teh segala!” Adi marah saat Ibu mengusulkan acara minum teh bersama
keluarga tunangan Adi. “Tapi, Adi…” omongan Ibu terpotong saat Adi membanting
pintu kamarnya. Bahkan di rumahnya pun sudah tidak ada sebiji bungkus teh,
kecuali diam-diam ketika Ibu merindukan Ayah.
Hari pernikahan pun tiba, Adi dan
calon istrinya terlihat sangat tampan dan cantik, begitu juga keluarga mereka.
Saat di ruang tata rias, Adi memandangi foto mendiang ayahnya. Adi tersenyum,
menghela nafas panjang.
Dia kemudian membuka tutup dari
cangkir, ternyata itu adalah teh sariwangi. Aromanya yang sangat memikat
langsung terhirup Adi.
Tiba-tiba memori Adi akan ayahnya
terputar di kepalanya seperti role film.
…
Cangkir itu tidak sengaja tersenggol
jatuh dan pecah.
“…untuk menjadi
orang sukses itu pasti akan mendapati banyak cobaan dalam hidup. Termasuk
kesedihan dan kehilangan. Yang harus kau lakukan adalah pantang menyerah, terus
melakukan yang terbaik dan kau harus merelakan hal buruk yang terjadi”
“Karena nya
sesalah apapun kamu, orangtua akan selalu memaafkan. Kau hanya perlu terus
mengerjakan yang terbaik, Adi. Paham?”.
Adi terdiam. Dia kemudian mengambil foto keluarganya dan memeluknya, sambil menangis.
***
Akad selesai dengan lancar. Adi
memeluk ibunya dengan sayang. “Ayah pasti sangat bahagia melihat ini, Adi” kata
Ibu dengan kacamata bacanya yang turun. Adi tersenyum,
“Ibu…”
“Ya?”
“Boleh minta buatkan teh?”
Ibu terkejut, menatap Adi tidak
percaya.
“Aku rindu aromanya, bu, hehe” mata
Adi berkaca-kaca
Ibu terharu, dan langsung memeluk
Adi sambil menitikkan air mata.
“Aku menyesal tidak menemuinya dalam
3 tahun itu, Bu. Adi marah pada diri Adi sendiri. Adi lupa, bahwa dikatakan
atau tidak, itu tetap cinta. Dan cinta akan selalu bersemayam pada keluarga…
Adi lupa Ayah pernah berpesan bahwa kita harus ikhlas dan tetap melakukan yang
terbaik” Adi memeluk Ibu sambil meneteskan air mata.
“Ayo semuanya, saatnya sesi foto
bareng pengantin!”.
Saat Bram menyalami si manten, Adi
berkata padanya sambil tertawa “Bram, ayo kita nge-teh ?”.
Mendengar itu Bram langsung memeluk
Adi, terharu.
No comments:
Post a Comment