Thursday, April 30, 2015

Ayahku Dan Secangkir Tehnya


“Ayah pulang!!” teriak Adi kecil sambil berlari menuju ayahnya di depan rumah. “Ayah pulang!!” Adi masih berteriak saat dipeluk ayahnya yang baru pulang dari Bali. Ayah tertawa melihat tingkah anaknya, “aku juga merindukanmu…”. Ibu hanya tersenyum, dia lalu menyiapkan teh.

Mereka berkumpul di teras depan rumah. Duduk berdampingan dan Ayah memangku Adi. Sambil menyeruput teh mereka berbincang-bincang tentang perjalanan Ayah.
“Penduduk Bali sangat ramah. Pemandangan sangat indah, budaya lokal di sana juga masih sangat kaya. Suatu hari nanti, kau yang akan membawa orangtuamu ini pergi ke sana, Adi. Bekerjalah dengan giat supaya kau bisa mengumpulkan uang” kata ayah hangat menasehati. Adi yang polos menjawab “tapi ayah sudah punya banyak uang, yah. Buat apa aku bekerja kalau ayahku sudah kaya?”.
Ibu takzim mendengarkan. Ayah melanjutkan, ”Nak, seorang ayah yang baik adalah ayah yang berhasil mendidik anak-anaknya untuk menjadi anak yang mandiri. Uang yang ayah punya bukan supaya kau menjadi manja, tapi supaya kau tidak kesusahan dan melihat usaha ayah”. Adi masih kecil, hanya mengerti bahwa maksud ayahnya adalah harus bekerja giat supaya dapat uang banyak, dan dia kalau dia tidak ikut bekerja maka keluarga akan jatuh miskin.
Ayah menyeruput teh lagi dan melanjutkan.
“Dan Adi, untuk menjadi orang sukses itu pasti akan mendapati banyak cobaan dalam hidup. Termasuk kesedihan dan kehilangan. Yang harus kau lakukan adalah pantang menyerah, terus melakukan yang terbaik dan kau harus merelakan hal buruk yang terjadi”.
Ibu tersenyum, menggenggam tangan Ayah. 
Adi menyeruput teh miliknya, tapi genggamannya licin dan gelas terjatuh sampai pecah.
PRANG!
Ibu dengan sigap langsung memungut beling dan kepingan kaca. “Adi! Hati-hati! Kamu ceroboh sekali, sih!” kata Ibu. “Adi minta maaf, tidak sengaja…” katanya dengan menyesal. Ayah yang bijak kemudian berkata, “Nak. Sini ayah beritahu. Kau mungkin punya teman, sahabat, atau pacar nantinya. Mereka adalah orang-orang yang akan menemanimu, tapi hanya sementara, percaya lah. Sedangkan orangtua, adalah keluarga dan mempunyai ikatan darah. Ingatlah, selamanya keluarga akan terus menjadi milkmu dan kau milik mereka,saling mengisi. Karena nya sesalah apapun kamu, orangtua akan selalu memaafkan. Kau hanya perlu terus mengerjakan yang terbaik, Adi. Paham?”. Ayah kemudian mengelapi ingus dan tangisan Adi. Ibu yang tadi memungut sampah langsung terdiam melihat Ayah, kemudian tersenyum dan menyeka sudut matanya.
                                                                        ***
Adi tumbuh dewasa, tapi dia tetap seperti anak yang sangat senang menghabiskan waktu bersama ayahnya. Ayah yang keren! Mereka masih sering nge-teh, dan ayah biasa memberi wejangan pada Adi saat nge-teh.
Sampai tiba saatnya. Saat seorang anak akhirnya meninggalkan rumah untuk mengejar mimpinya. Hari ini adalah hari yang sangat istimewa! Adi baru saja lulus kuliah!
“Hahaha… Anakku sudah jadi orang!” kata ayah sambil memeluk Adi, tubuhnya sudah lemah, wajahnya mengkerut dan rambutnya sudah memutih, begitu juga Ibu. Meski begitu, mereka terlihat begitu tampan dan cantik di hari ini. Sedang Adi, tumbuh menjadi anak yang kuat, sehat dan baik.
“Ayo kita rayakan bersama keluarga besar!” kata Ibu. “Aduh, mau ngapain bu?” kata Adi mengeluh, dia lelah setelah seharian berpelukan dengan teman-temannya. Ayah nyeletuk, “Kita nge-teh!”. Ibu memperingatkan, “baru saja semalam :/ Tapi ayolah”.
Suasana keluarga itu sangat bahagia dan penuh sukacita.
                                                                        ***
Adi kemudian mendapatkan pekerjaan di luar kota dengan prospek yang tinggi.
Adi dan orangtuanya sudah berada di bandara, bersiap melepas Adi untuk pergi. Andi memeluk kedua orangtuanya sambil menitikkan air mata, begitu juga ibu. Ayah tidak ingin menangis, hanya akan membuat anaknya semakin berat untuk pergi.
“Pak…” kata Adi sendu.
Ayah kemudian melihat wajah anak semata wayangnya tersebut. “Jangan lupa makan, jaga kesehatanmu juga. Jangan pantang menyerah, nak”. Kata Ayah akhirnya.
Adi tersenyum sedih, merangkul ayahnya kemudian masuk ke ruang tunggu sebelum ia akhirnya melambaikan tangan.
                                                                        ***
Sudah 4 tahun sejak kepergian Adi, dan mereka masih belum pernah bertemu. Adi hanya rutin menelpon orangtuanya. Dan ayah mulai sakit dengan tubuh tuanya.
“Adi, ayahmu…” Ayah langsung mengambil telepon dari Ibu, memotong omongan ibu.
“Nak, bagimana kau di sana?”Ayah bicara susah payah menahan batuk
“Syukurlah. Kau jangan pulang dulu sebelum membawa istri!” kata ayah becanda.

Yang di telpon protes.
“Tidak, pokoknya jangan pulang”
Ibu menangis melihat Ayah yang terus menutupi penyakitnya itu. “Sudah ya, ayah mau istirahat”.
Ayah langsung mematikan telepon. Yang ditelpon bingung, tapi memilih menganggap semua baik-baik saja.
Ibu juga protes, “kenapa yah? Sudah 3 tahun sejak dia pergi, tidak apa dia melihat keadaanmu? Kenapa kau keras kepala sih?”
Ayah, seolah tau sesuatu di masa depan. “Sakitku sudah parah, percuma membuang uang untuk mengobati. Lebih baik dia menabung untuk membangun rumah yang layak bagi keluarganya nanti. Seperti yang dulu kulakukan padamu”. Ibu menangis, tidak membalas apa-apa. “Tolong buatkan aku teh. Ayo nge-teh denganku” ajak ayah sambil batuk-batuk.
Sampai suatu hari, sakit ayah sangat parah. Seolah tau masa depan, dia berkata di pembaringannya, “Istriku, aku akan segera mati. Tolong kau panggilkan Adi kemari, aku ingin nge-teh dengannya sekali sebelum aku pergi”. Ibu menangis terisak, siapa yang tidak sedih saat teman hidup, kekasih, dan orang yang paling dicintai pamit untuk pergi selama-lamanya?
“Lupakan dengan semua pekerjaanmu itu, kau harus pulang sekarang!!”
“Kenapa, bu???” Adi mendesak
“Ayahmu sekarat, Adi!”
                                                                        ***
Ayah berbaring di Rumah Sakit, segera tertawa terharu melihat anaknya pulang. “Mana istrimu???".

“Ayaaahhh… Kenapa tidak bilang ayah sakit?” Adi memeluk ayahnya, tidak menanggapi gurauan.
“Ayo kita nge-teh?” kata ayah. Adi mengusap airmatanya.
Aroma teh menyeruak lembut di ruangan. Ayah menyeruput tehnya,”nikmat sekali… Akhirnya bisa nge-teh juga denganmu”. Adi tersenyum, menggenggam tangan ayahnya setelah meletakkan gelas teh ayah ke meja.
“Maafkan Adi tidak menjenguk ayah 3 tahun ini” kata Adi akhirnya
Ayah tersenyum, mengelus rambut Adi. Dia puas melihat anaknya sudah menjadi pria dewasa yang matang sekarang. “Orangtua selalu memaafkan anaknya, karena keluarga itu abadi, Nak… Peluk orang tua ini?”.
Tangisan Ibu langsung pecah, hati Adi terasa sangat berat. “Jaga ibumu baik-baik, ya. Segera lah punya anak supaya ibumu tidak kesepian. Ayah sayang kalian”.
Ayah pun meninggal dunia dengan tenang dalam pelukan keluarganya.
                                                                        ***
“Hei, Mas Adi, sudah selesai?” sapa Bram, salah seorang staf Adi.
“Sebentar lagi nih, Bram”
“Nge-teh yuk?”
“Duh, ngopi saja ya?”
“Iya deh, kali ini kutraktir”.
Pelayan pun mengantarkan kopi pesanan mereka.
“Jadi bagaimana pernikahanmu nanti, Adi?” Bram membuka pembicaraan.
“Hanya sederhana, Bram”.
Tiba-tiba Adi mencium aroma teh susu, ternyata seorang pelayan mengantarkan teh di belakangnya.
“AH!!” Adi tiba-tiba emosi, dan langsung berjalan cepat menjauhi aroma tersebut meninggalkan Bram.
Bram mengejarnya, “Kenapa Adi???”.
Adi terlihat marah. “Jangan lagi bawa aku ke sini, aku tidak mau menghirup aroma teh apapun itu!”
“Kenapa?”
Mereka kemudian duduk di depan kantor.
“Aku memiliki kenangan yang indah dengan ayahku, Bram. Hampir semuanya ditemani teh sialan itu. Ayahku kemudian meninggal setelah pertemuan pertama kami. Sudah tiga tahun aku sibuk bekerja sampai tidak sempat pulang. Sejak ayahku meninggal, aku membenci teh itu… Aroma wanginya mengingatkanku bahwa aku telah meninggalkannya selama itu. Aku selalu menyesal, Bram” kenang Adi. Sahabatnya Bram hanya diam dan menepuk pundak Adi.
                                                                        ***
“Ibu!! Aku tidak mau ada acara nge-teh segala!” Adi marah saat Ibu mengusulkan acara minum teh bersama keluarga tunangan Adi. “Tapi, Adi…” omongan Ibu terpotong saat Adi membanting pintu kamarnya. Bahkan di rumahnya pun sudah tidak ada sebiji bungkus teh, kecuali diam-diam ketika Ibu merindukan Ayah.
Hari pernikahan pun tiba, Adi dan calon istrinya terlihat sangat tampan dan cantik, begitu juga keluarga mereka. Saat di ruang tata rias, Adi memandangi foto mendiang ayahnya. Adi tersenyum, menghela nafas panjang.
Dia kemudian membuka tutup dari cangkir, ternyata itu adalah teh sariwangi. Aromanya yang sangat memikat langsung terhirup Adi.
Tiba-tiba memori Adi akan ayahnya terputar di kepalanya seperti role film.
Cangkir itu tidak sengaja tersenggol jatuh dan pecah.
“…untuk menjadi orang sukses itu pasti akan mendapati banyak cobaan dalam hidup. Termasuk kesedihan dan kehilangan. Yang harus kau lakukan adalah pantang menyerah, terus melakukan yang terbaik dan kau harus merelakan hal buruk yang terjadi”
“Karena nya sesalah apapun kamu, orangtua akan selalu memaafkan. Kau hanya perlu terus mengerjakan yang terbaik, Adi. Paham?”.


Adi terdiam. Dia kemudian mengambil foto keluarganya dan memeluknya, sambil menangis.

                                                                        ***
Akad selesai dengan lancar. Adi memeluk ibunya dengan sayang. “Ayah pasti sangat bahagia melihat ini, Adi” kata Ibu dengan kacamata bacanya yang turun. Adi tersenyum,
“Ibu…”
“Ya?”
“Boleh minta buatkan teh?”
Ibu terkejut, menatap Adi tidak percaya.
“Aku rindu aromanya, bu, hehe” mata Adi berkaca-kaca
Ibu terharu, dan langsung memeluk Adi sambil menitikkan air mata.
“Aku menyesal tidak menemuinya dalam 3 tahun itu, Bu. Adi marah pada diri Adi sendiri. Adi lupa, bahwa dikatakan atau tidak, itu tetap cinta. Dan cinta akan selalu bersemayam pada keluarga… Adi lupa Ayah pernah berpesan bahwa kita harus ikhlas dan tetap melakukan yang terbaik” Adi memeluk Ibu sambil meneteskan air mata.
“Ayo semuanya, saatnya sesi foto bareng pengantin!”.
Saat Bram menyalami si manten, Adi berkata padanya sambil tertawa “Bram, ayo kita nge-teh ?”.
Mendengar itu Bram langsung memeluk Adi, terharu.

No comments:

Post a Comment