Thursday, April 30, 2015

Cintaku Terhalang Pulsa



 “Jadi lebaran kamu gak pulang kampong ke keluargamu?” Tanya Devi lembut. Dia sedang telponan dengan pacarnya yang bekerja di luar kota, Ageng.
“Ya gimanalah yank, buat makan aja masih mesti hemat-hemat, apalagi beli tiket pulang kampung”.
Devi saat itu sedang berada di kampung halamannya sendiri di Jakarta, sedang Ageng masih di Batam. “Hmmmph, tidak terasa ini lebaran kedua bagi kita ya?” lanjut Ageng, menghela nafas. Devi hanya nyengir, kemudian hendak lanjut bicara “Eh, yank, sepupuku yang bayi itu lucu banget tau, aku…..”
Tut tut tut tut… Tiba-tiba telepon mati, habis pulsa.
Devi hanyalah seorang siswi SMA yang jajannya dibatasi supaya tidak boros, jadi dia tidak punya pulsa banyak untuk menelpon balik. “Arrrgghhh…!”. Kesal, kenapa sih lagi asyik ngobrol tiba-tiba mati??? Dia menggigit jarinya, mengepalkan tangan gemas.
Ini adalah lebaran kedua bagi mereka, sudah 2 tahun berpacaran dan sekarang LDR.
Sayangnya…
“Yank! Kok baru nelpon?” Devi kesal, kesal sangat. Dia sudah menunggu telepon dari Ageng sejam.
“Maafin aku, yank… Daganganku hari ini kurang laku, jadi belum ada pemasukan untuk beli pulsa…” Ageng memelas. Ya, dia adalah seorang perantau yang kurang mampu sedang membangun nasib. Mungkin memang tidak pantas dia memacari seorang gadis SMA.
Tapi kawan, itulah cinta.
“Pakai saja uang tabunganmu dulu buat beli pulsa, bisa kan?”
Ageng kembali memelas. “Aku baru membayar uang kost, yank…”
Devi menggeram sendiri.
“Maafkan aku, Devi. Aku hanya seorang perantau… Kau tau itu”
Dan… setengah jam kemudian –yang dipenuhi omelan Devi- telepon kembali putus.
Paket telepon? Ageng sudah bergonta-ganti kartu, memakai semua poin, memasang paket apapun itu namanya. Tetap saja, bukan gratis 24 jam setiap hari, atau syarat-syaratnya yang aneh dan ribet.
Akhirnya Ageng menelpon Devi siang hari minggu. Bagi Devi, hari libur adalah hari dimana dia bisa puas ‘bersama’ dengan Ageng. Tapi alasannya masih klise.
Devi marah, sangat marah.  “Setiap hari telepon hanya 3 jam sehari dan hari liburku pun kau tetap tidak bisa telpon lama??? Kemana saja kau tadi pagi?” Devi hampir berteriak -Kalau saja tidak ada ibunya di rumah, dia pasti sudah teriak. Kau tau lah teman, Backstreet. Mana ada orangtua kaya mau anak gadisnya yang masih rok abu-abu pacaran dengan laki-laki yang membangun hidup?-.
“Devi sayang, kau mengigau sepanjang malam. Aku baru bisa tidur tadi subuh setelah kau tidur nyenyak…”
“Kan aku bilang tidak usah telepon malam, jadinya gini kan, paginya pas aku bangun kau tak menelponku?! Ya kan???” Devi membentak.
“Aku bahkan belum sempat belanja untuk kebutuhan dagang, Devi. Uang pulsa ini sebenarnya uang belanja…”
Alis Devi melipat keras, bibirnya terkatup rapat, geram sekali.
Ageng menghembuskan nafas. “Pulsa ini tidak seberapa, kau mau marah sepanjang telepon atau bagimana?”. Devi diam, dia ngambek.
“Aku capek sekali kau marahi terus, Devi…”
Devi semakin mengerut.
“Jujur kadang aku malas menelponmu karena tidak mau kamu marah… Kamu tau aku bekerja siang malam, hanya tidur beberapa jam, makan sekali sehari. Kamu tau aku capek, tapi masih marah”
Devi diam, tidak berkomentar apa-apa. Tapi kesalnya mulai turun saat mendengarnya.
“Aku capek memikirkan pengeluaranku yang tidak seimbang dengan penghasilanku, kamu tau aku Cuma seorang pedagang… Kau sudah memutuskan untuk mencintaiku, Dev. Kau harus sabar, kamu tau kan, aku selalu mengusahakan untuk beli pulsa? Aku juga rindu kamu, Devi”
Dan seperti biasa, pertengkaran diakhiri dengan saling memaafkan dan mengalah, apalagi Ageng yang selalu mengalah. Devi masih kecil…
“Maafkan aku, Ageng. L “ Devi menyesal. “Aku akan berusaha lagi mengertimu dan menahan marah”
“Kau selalu marah, Dev”
“Tidak akan lagi, aku janji”
Setengah jam, telepon mati. Devi menghela nafas… Dia merasa seperti di novel the time traveller’s wife, yang suaminya sewaktu-waktu dapat hilang, sang istri pun sudah siap jika suaminya itu tiba-tiba hilang. Begitu juga Devi.
Tapi tetap saja rasanya berat.
***
“Malam, sayang. Sudah mau tidur?” sapa Ageng. Devi sudah menunggu telepon Ageng sejak pagi. Devi tidak menjawab, sebenarnya sangat marah. Saking marahnya, dia hanya bisa menangis.
“… Devi…” suara Ageng. Devi terisak, dia bertanya-tanya dalam hati, Sampai kapan kita akan begini terus? Ageng seperti mendengar suara hatinya. “Yang sabar…”. Ageng tidak banyak berkata, dia selalu sedih saat Devi sedih. Ageng berandai-andai, kalau aku di sisimu sekarang pasti akan kupeluk, ku elus-elus dan kuusap air matanya. Tapi ini hanya via suara.
Devi akhirnya bicara, “Aku merindukanmu selalu, Geng”. Ageng menunduk, walau Devi tidak melihatnya. “Aku hanya ingin kita bicara terus…” Devi mengucapkan kalimatnya sepatah-sepatah. “Aku lelah menunggumu terus”. “Kalau begitu jangan tunggu!” Ageng menjawab setengah kesal, kalau tidak mau menunggu ya jangan tunggu? Tapi dia tau bahwa, “Kau tau aku selalu menunggumu, tidak bisa tidak…”
Biasanya laki-laki normal akan merasa kesal dan tidak sabaran kalau punya pasangan yang menuntut di telepon terus, pasangan yang mengeluh telah lama menunggu telepon padahal dia bisa melakukan hal lain untuk tidak menunggu. Tapi Devi adalah wanita beruntung. Memiliki kekasih yang sabar dan pengertian, tentu karena Ageng mencintai Devi tidak seperti laki-laki kebanyakan.
“Aku bukan anak orang kaya yang bisa kapan saja minta pulsa, Devi”
“Maaf, Ageng, aku selalu tidak bisa menahan marah dan kesal tiap kau telat nelpon. Bodoh, padahal aku tau kau bukan seperti itu…”
“Ssshh…” Ageng memotong kalimat Devi. “Walau aku bosan dan capek kau marahi, tapi sebenarnya aku terharu. Deviku setia menungguku, tidak banyak wanita yang terus-terusan rindu pasangannya”
Devi semakin menangis.
“Kamu masih terlalu muda untuk menghabiskan waktumu menungguku, Devi.”
Devi menyeka air matanya.
“Bersabarlah, cinta…”
Devi diam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Jangan hubungi aku lagi, Geng”.
Ageng terkejut.
“Menghubungiku hanya membuatku terus berharap kau akan terus menelpon. Menghubungiku hanya membuatku terus menunggu telepon selanjutnya”
“Yank…” Ageng tidak mampu berkata-kata.
“Jangan telepon aku lagi kecuali saat tidur, Geng”. Devi menggigit bibir, mengusap air matanya.
“Aku akan mencoba tidur tanpa nina bobomu. Aku akan melakukan hal lain supaya tidak ingat kamu” kata Devi.
“Tapi aku tidak bisa tidur sebelum mendengar nafasmu”
“Cobalah” Devi terisak
“Nggak… Nggak gini, yank. Jangan gini… Aku akan terus mencari uang untuk nelpon darimana pun itu”
“You’ve done that, Geng”
“Jangan gitulah, Yank. Aku sudah berusaha! Kau tau, tengah malam aku sering keliling perumahan untuk cari counter pulsa walaupun masih ngutang. Aku sering menelpon temanku tengah malam, mengganggu tidurnya, untuk beli pulsa. Untuk bicara denganmu! Jangan begitu!”
Devi menangis. “Bersabarlah, sayang… Ya?” Ageng berusaha menenangkan.
***
Hari berganti hari, mereka masih saling mencintai dan saling sangat merindukan. Devi, belajar untuk sabar. Ya, dalam mencintai memang harus sabar.
“Hahaha, ibu kita sama menyebalkan” Devi dan Ageng sedang bercerita tentang orangtua masing-masing. “Ibumu lebih aneh, macam nenek lampir, aku aja---“.
TUUUT…. Suara Ageng tiba-tiba terhenti. Habis pulsa lagi.
Devi menghela nafas. Tersenyum, men-charge handphone nya dan membaca buku pelajaran.
Devi sejak dulu sebenarnya sudah sepenuhnya paham, bahwa Ageng hanyalah laki-laki sederhana yang sedang membangun masa depan. Yah, memang harus mengorbankan sedikit urusan percintaannya. Devi sudah tau itu, hanya egonya yang tidak terkendali. Dan Ageng adalah lelaki penyabar dan dewasa, dan dengan kesabarannya itu dia berhasil membangun rasa sabar dalam cinta Devi

No comments:

Post a Comment