“Jadi lebaran kamu gak pulang kampong ke
keluargamu?” Tanya Devi lembut. Dia sedang telponan dengan pacarnya yang
bekerja di luar kota, Ageng.
“Ya gimanalah yank, buat makan aja
masih mesti hemat-hemat, apalagi beli tiket pulang kampung”.
Devi saat itu sedang berada di
kampung halamannya sendiri di Jakarta, sedang Ageng masih di Batam. “Hmmmph,
tidak terasa ini lebaran kedua bagi kita ya?” lanjut Ageng, menghela nafas.
Devi hanya nyengir, kemudian hendak lanjut bicara “Eh, yank, sepupuku yang bayi
itu lucu banget tau, aku…..”
Tut tut tut tut… Tiba-tiba telepon
mati, habis pulsa.
Devi hanyalah seorang siswi SMA yang
jajannya dibatasi supaya tidak boros, jadi dia tidak punya pulsa banyak untuk
menelpon balik. “Arrrgghhh…!”. Kesal, kenapa sih lagi asyik ngobrol tiba-tiba
mati??? Dia menggigit jarinya, mengepalkan tangan gemas.
Ini adalah lebaran kedua bagi mereka,
sudah 2 tahun berpacaran dan sekarang LDR.
Sayangnya…
“Yank! Kok baru nelpon?” Devi kesal,
kesal sangat. Dia sudah menunggu telepon dari Ageng sejam.
“Maafin aku, yank… Daganganku hari
ini kurang laku, jadi belum ada pemasukan untuk beli pulsa…” Ageng memelas. Ya,
dia adalah seorang perantau yang kurang mampu sedang membangun nasib. Mungkin
memang tidak pantas dia memacari seorang gadis SMA.
Tapi kawan, itulah cinta.
“Pakai saja uang tabunganmu dulu
buat beli pulsa, bisa kan?”
Ageng kembali memelas. “Aku baru
membayar uang kost, yank…”
Devi menggeram sendiri.
“Maafkan aku, Devi. Aku hanya
seorang perantau… Kau tau itu”
Dan… setengah jam kemudian –yang
dipenuhi omelan Devi- telepon kembali putus.
Paket telepon? Ageng sudah
bergonta-ganti kartu, memakai semua poin, memasang paket apapun itu namanya.
Tetap saja, bukan gratis 24 jam setiap hari, atau syarat-syaratnya yang aneh
dan ribet.
Akhirnya Ageng menelpon Devi siang
hari minggu. Bagi Devi, hari libur adalah hari dimana dia bisa puas ‘bersama’
dengan Ageng. Tapi alasannya masih klise.
Devi marah, sangat marah. “Setiap hari telepon hanya 3 jam sehari dan
hari liburku pun kau tetap tidak bisa telpon lama??? Kemana saja kau tadi
pagi?” Devi hampir berteriak -Kalau saja tidak ada ibunya di rumah, dia pasti
sudah teriak. Kau tau lah teman, Backstreet. Mana ada orangtua kaya mau anak
gadisnya yang masih rok abu-abu pacaran dengan laki-laki yang membangun hidup?-.
“Devi sayang, kau mengigau sepanjang
malam. Aku baru bisa tidur tadi subuh setelah kau tidur nyenyak…”
“Kan aku bilang tidak usah telepon
malam, jadinya gini kan, paginya pas aku bangun kau tak menelponku?! Ya kan???”
Devi membentak.
“Aku bahkan belum sempat belanja
untuk kebutuhan dagang, Devi. Uang pulsa ini sebenarnya uang belanja…”
Alis Devi melipat keras, bibirnya
terkatup rapat, geram sekali.
Ageng menghembuskan nafas. “Pulsa
ini tidak seberapa, kau mau marah sepanjang telepon atau bagimana?”. Devi diam,
dia ngambek.
“Aku capek sekali kau marahi terus,
Devi…”
Devi semakin mengerut.
“Jujur kadang aku malas menelponmu
karena tidak mau kamu marah… Kamu tau aku bekerja siang malam, hanya tidur
beberapa jam, makan sekali sehari. Kamu tau aku capek, tapi masih marah”
Devi diam, tidak berkomentar
apa-apa. Tapi kesalnya mulai turun saat mendengarnya.
“Aku capek memikirkan pengeluaranku
yang tidak seimbang dengan penghasilanku, kamu tau aku Cuma seorang pedagang…
Kau sudah memutuskan untuk mencintaiku, Dev. Kau harus sabar, kamu tau kan, aku
selalu mengusahakan untuk beli pulsa? Aku juga rindu kamu, Devi”
Dan
seperti biasa, pertengkaran diakhiri dengan saling memaafkan dan mengalah,
apalagi Ageng yang selalu mengalah. Devi masih kecil…
“Maafkan
aku, Ageng. L “
Devi menyesal. “Aku akan berusaha lagi mengertimu dan menahan marah”
“Kau
selalu marah, Dev”
“Tidak
akan lagi, aku janji”
Setengah
jam, telepon mati. Devi menghela nafas… Dia merasa seperti di novel the time
traveller’s wife, yang suaminya sewaktu-waktu dapat hilang, sang istri pun
sudah siap jika suaminya itu tiba-tiba hilang. Begitu juga Devi.
Tapi
tetap saja rasanya berat.
***
“Malam, sayang. Sudah mau tidur?”
sapa Ageng. Devi sudah menunggu telepon Ageng sejak pagi. Devi tidak menjawab,
sebenarnya sangat marah. Saking marahnya, dia hanya bisa menangis.
“… Devi…” suara Ageng. Devi terisak,
dia bertanya-tanya dalam hati, Sampai kapan kita akan begini terus? Ageng
seperti mendengar suara hatinya. “Yang sabar…”. Ageng tidak banyak berkata, dia
selalu sedih saat Devi sedih. Ageng berandai-andai, kalau aku di sisimu
sekarang pasti akan kupeluk, ku elus-elus dan kuusap air matanya. Tapi ini
hanya via suara.
Devi akhirnya bicara, “Aku
merindukanmu selalu, Geng”. Ageng menunduk, walau Devi tidak melihatnya. “Aku
hanya ingin kita bicara terus…” Devi mengucapkan kalimatnya sepatah-sepatah. “Aku
lelah menunggumu terus”. “Kalau begitu jangan tunggu!” Ageng menjawab setengah
kesal, kalau tidak mau menunggu ya jangan tunggu? Tapi dia tau bahwa, “Kau tau
aku selalu menunggumu, tidak bisa tidak…”
Biasanya laki-laki normal akan
merasa kesal dan tidak sabaran kalau punya pasangan yang menuntut di telepon
terus, pasangan yang mengeluh telah lama menunggu telepon padahal dia bisa
melakukan hal lain untuk tidak menunggu. Tapi Devi adalah wanita beruntung. Memiliki
kekasih yang sabar dan pengertian, tentu karena Ageng mencintai Devi tidak
seperti laki-laki kebanyakan.
“Aku bukan anak orang kaya yang bisa
kapan saja minta pulsa, Devi”
“Maaf, Ageng, aku selalu tidak bisa
menahan marah dan kesal tiap kau telat nelpon. Bodoh, padahal aku tau kau bukan
seperti itu…”
“Ssshh…” Ageng memotong kalimat
Devi. “Walau aku bosan dan capek kau marahi, tapi sebenarnya aku terharu.
Deviku setia menungguku, tidak banyak wanita yang terus-terusan rindu
pasangannya”
Devi semakin menangis.
“Kamu masih terlalu muda untuk
menghabiskan waktumu menungguku, Devi.”
Devi menyeka air matanya.
“Bersabarlah, cinta…”
Devi diam beberapa saat sebelum
akhirnya berkata, “Jangan hubungi aku lagi, Geng”.
Ageng terkejut.
“Menghubungiku hanya membuatku terus
berharap kau akan terus menelpon. Menghubungiku hanya membuatku terus menunggu
telepon selanjutnya”
“Yank…” Ageng tidak mampu
berkata-kata.
“Jangan telepon aku lagi kecuali
saat tidur, Geng”. Devi menggigit bibir, mengusap air matanya.
“Aku akan mencoba tidur tanpa nina
bobomu. Aku akan melakukan hal lain supaya tidak ingat kamu” kata Devi.
“Tapi aku tidak bisa tidur sebelum
mendengar nafasmu”
“Cobalah” Devi terisak
“Nggak… Nggak gini, yank. Jangan
gini… Aku akan terus mencari uang untuk nelpon darimana pun itu”
“You’ve done that, Geng”
“Jangan gitulah, Yank. Aku sudah
berusaha! Kau tau, tengah malam aku sering keliling perumahan untuk cari
counter pulsa walaupun masih ngutang. Aku sering menelpon temanku tengah malam,
mengganggu tidurnya, untuk beli pulsa. Untuk bicara denganmu! Jangan begitu!”
Devi menangis. “Bersabarlah, sayang…
Ya?” Ageng berusaha menenangkan.
***
Hari berganti hari, mereka masih
saling mencintai dan saling sangat merindukan. Devi, belajar untuk sabar. Ya,
dalam mencintai memang harus sabar.
“Hahaha, ibu kita sama menyebalkan”
Devi dan Ageng sedang bercerita tentang orangtua masing-masing. “Ibumu lebih
aneh, macam nenek lampir, aku aja---“.
TUUUT…. Suara Ageng tiba-tiba
terhenti. Habis pulsa lagi.
Devi menghela nafas. Tersenyum,
men-charge handphone nya dan membaca buku pelajaran.
Devi sejak dulu sebenarnya sudah
sepenuhnya paham, bahwa Ageng hanyalah laki-laki sederhana yang sedang
membangun masa depan. Yah, memang harus mengorbankan sedikit urusan
percintaannya. Devi sudah tau itu, hanya egonya yang tidak terkendali. Dan
Ageng adalah lelaki penyabar dan dewasa, dan dengan kesabarannya itu dia
berhasil membangun rasa sabar dalam cinta Devi
No comments:
Post a Comment