Tidak mengapa kita tidak bisa bertemu dulu sekarang.
Kita pasti akan bertemu nanti kan?
Cuman soal waktu.
Aku juga mungkin masih belum siap.
Aku takut kau melihatku dengan wajahku yang penuh jerawat dan kucel ini.
Melihatku dengan gigi dikawat.
Kulit tanganku yang menghitam dan seragam sekolahku yang bau keringat.
Dan setidaknya aku bisa terlihat sedikit gemuk, ya kan?
Kita akan bertemu saat aku sudah tidak lagi jadi peri kecilmu itu.
Dan kita akan bertemu saat buah hatimu sudah tumbuh.
Supaya nanti kita bisa bercakap-cakap tentang yang sudah kita lewati.
Kita akan bertukar cerita lebih banyak nantinya.
Tentang pendopo kita, adik-adik kecil jagoan kita, tentang teman-teman
kita, tentang si kakek dan anaknya yang sudah beranjak remaja.
Dan tentang kita.
Apakabarmu? Apakabarnya?
Setelah semua yang kita lalui bersama, dan setelah yang kita lalui sendiri-sendiri?
Tidak mengapa, rindu ini akan menjadi penghias bunga tidurku.
Dengan demikian, kau akan tetap di pikiranku.
Dan agar aku bisa terus bertanya-tanya tentang kabarmu.
Biarlah kita bertemu saat aku sudah bisa memetik setiap hikmah sejak saat itu.
Sejak kita sama-sama berkata bahwa kita tidak akan pernah tinggal serumah.
Sejak kita saling memantapkan diri, untuk berjalan masing-masing.
Tapi selama kita masih saling menyayangi seperti saudara sendiri, tidak mengapa.
Tidak sekarang.
Nanti kita akan saling tersenyum dari jauh, menatap dari kejauhan, dan saling mengerti maksud dari kata-kata itu.
Nanti kita bertemu
No comments:
Post a Comment