Adi pergi ke kamarnya. Matanya
menyapu seluruh ruangan. Kemudian membuka pintu lemari baju, siapa tau ada
perhiasan atau sebagainya. Perhiasan ibu? Sudah tinggal cincin dan kalung
peninggalan orangtuanya, selainnya sudah di jual untuk pengobatan Ibu. Hanya
tinggal jam tangan murahan. Diambilnya sembarang. Tidak ada lagi yang bisa
dijual.
Adi melewati Bapak yang
berteriak memanggilnya. “Kau mau kemana?!” Bapak dengan mata sambab dan wajah
lelahnya bertanya. Adi tidak menghiraukan, langsung pergi keluar rumah. “Adi!!!” Bapak berteriak lagi mencegahnya, tapi tidak
berdaya.
Adi pergi menuju sebuah toko jam
bekas, hendak menjual jam bututnya. “Masih mulus, koh” kata Adi. Kakek tua
penjual jam itu mengerut, “Apanya yang mulus? Kau dan aku tau jam ini bahkan
jauh dari layak”. Adi menggaruk kepalanya,
“Berapa saja lah Pak… Ibu saya sedang sakit parah, kami tidak punya uang sama
sekali" Adi memelas. Kakek tersebut memandang
Adi kasihan, “begitu juga aku, nak. Bertahun-tahun jualan jam bekas tidak
menguntungkan apa-apa. Aku sungguh perihatin”. Kata kakek tersebut
mengembalikan jam itu. Benar saja, jamnya bahkan sudah pecah, bodinya
beret-beret, rusak parah.
Adi marah. Spontan menampar
Kakek tersebut dengan jam logamnya itu, dan berjalan cepat meninggalkannya. Si
kakek tidak menyangka, kaget, tidak sanggup berkata apa-apa. Giginya bahkan
langsung goyang dan menimbulkan luka di rahangnya. Kakek sangat kaget tiba-tiba
ditampar dengan jam logam.
Tapi ada hal yang membuat kakek merasa takut. Dia merasa tidak dapat mempercayai cerita Adi, dan ketika melihat mata Adi, dia seperti melihat… Penjahat. Mungkin karena dia sibuk mencari biaya, jadi dia memaksa siapa saja untuk itu, pikir Kakek. Bulu kuduknya berdiri, mengerikan sekali melihat wajah Adi itu.
Tapi ada hal yang membuat kakek merasa takut. Dia merasa tidak dapat mempercayai cerita Adi, dan ketika melihat mata Adi, dia seperti melihat… Penjahat. Mungkin karena dia sibuk mencari biaya, jadi dia memaksa siapa saja untuk itu, pikir Kakek. Bulu kuduknya berdiri, mengerikan sekali melihat wajah Adi itu.
Adi berjalan ke hampir semua toko. Hitungan 1… 2… 3… Semua pemilik toko
mengatakan tidak ada lowongan. Adi marah. “Ibu saya sekarat! Saya butuh uang
untuk pengobatannya!!”. Beragam jawaban, biasanya mereka menyarankan untuk
meminta jaminan kesehatan dari pemerintah. Adi biasanya meneriaki orang-orang
tersebut “Ah, setan!” lalu bergegas keluar toko dan pergi ke
toko-toko lainnya untuk mencari pekerjaan.
Bayangan Ibu yang hamil tua tidak berdaya, hanya terbaring dengan kasurnya yang berlumuran darah terus ‘berputar’ di pikiran Adi, seperti roll film yang berkali-kali diputar ulang.
Panas terik tidak membuatnya
gentar. Terus saja dia memohon pekerjaan apa saja, gaji berapa saja, dan berteriak
“Setan!” ke orang yang menolaknya. Adi lelah, beristirahat di pinggir
jalan sambil menyeka keringat. Dia hanya bisa melototi orang yang makan enak di
dekatnya.
Terus begitu, sampai menjelang malam.
Adi berpikir mungkin Ibunya belum makan, atau kalaupun sudah, pasti Bapak yang
belum. Tapi tidak ada selembaran apapun di sakunya. Adi menelan ludah. Matanya
menyapu seluruh jalan. Dan menemukan sebuah rumah makan nasi padang. Dia ingat
ayahnya suka sekali nasi padang. Dia pun menghampiri Rumah Makan tersebut dan
memesan dengan porsi yang banyak.
“Ini mas” kata pelayan sambil
memberi bungkusan tersebut.
Adi mengambilnya, dan langsung
berlari sekencang-kencang dari Rumah Makan tersebut. Tapi larinya masih kalah
kebut, dia tertangkap massa. Dipukuli, ditendang, diludahi, bahkan dikencingi.
“Ampun! Ibu saya sakit parah,
saya tidak punya uang, dia belum makan!!!” Adi berteriak, tapi nyaris tidak
terdengar, mereka sibuk menghajarnya sampai petugas keamanan setempat
memberhentikan.
“Kenapa kau mencuri, nak?” Tanya
seorang petugas saat Adi ditahan di kantor polisi terdekat. Atau lebih
tepatnya, diselamatkan. Adi babak belur, menjawab sambil meringis “Ayah saya
sakit parah, pak. Dia juga belum makan, dan saya tidak punya uang”. Polisi
tersebut hanya ber-oh, tidak terlihat simpati. “Kau masih untung kuselamatkan
tadi, kalau tidak kau mungkin sudah menyusul ayahmu di Rumah Sakit” kata polisi
santai. “Saya tidak punya uang, pak. Uang kami habis untuk pengobatan. Mana
bisa dibawa ke Rumah Sakit” mata Adi berkaca-kaca, menunduk. Polisi tersebut
menghembuskan nafas.
“Tapi bukan cuma kau yang punya
nasib buruk, Nak”. Adi mengangkat kepala, memandang polisi itu. “Jam berapa
sekarang? 8 malam, bahkan jam segini aku belum makan juga” lanjutnya. “Seperti
yang tadi aku bilang, kau beruntung kuselamatkan tadi. Sekarang resminya aku
sedang menahanmu, butuh uang lho untuk tebusan supaya bebas. Tapi karena
kasihan dengar ceritamu, aku mau makan malam saja lah” kata polisi tersebut
santai, memandang ke arah lain.
Mata Adi melotot, dengan cepat
hendak meninju polisi itu. “Persetan kau, bodoh! Polisi tolol, kau mau minta
uang dengan pencuri sepertiku? Yang punya Ibu hampir mati di rumah sakit dan tidak
punya uang sepeser pun untuk pengobatan?!” Adi berteriak sekencang-kencangnya,
dan membanting beberapa barang di meja polisi itu. Semua petugas langsung
melihat ke arahnya. “EH-EH, apa-apaan kau? Aku hanya bicara soal tebusan”
polisi gendut itu agak panik.
“Sumpah demi Tuhan kau diam!!!”
hampir Adi memukul kepala polisi itu tapi dengan cepat di haling polisi lain.
“Lebih baik aku tadi digebuki! Kau setan, bisanya memerasku?! Ibuku sedang
sekarat!!!” Adi berteriak berusaha melepas tubuhnya, dan setengah menangis saat
bicara ayahnya yang sekarat.
Adi terus meraung-raung dan
menggeliat. Salah seorang petinggi polisi di kantor tersebut kemudian datang.
“Hei hei sudah, lepaskan dia”.
Polisi yang menahannya saling
berpandangan. “Lepaskan saja”. Mereka pun melepasnya. Adi langsung terduduk
sambil menangis meraung. Petinggi tersebut duduk berhadapan dengan Adi. “Cepat
pulang sana, jangan berbuat ulah lagi” katanya. Adi memandangi polisi tersebut dengan matanya yang
berurai air mata. “Cepatlah, sebelum kami minta tebusan bebasmu”.
Adi langsung berlari keluar dari
kantor tersebut dan pulang.
Di perjalanan pulang, Adi
melihat seorang gadis berjalan sendirian. Adi melirik tasnya, pasti ada
uangnya, ucapnya dalam hati. Saat itu dia hanya memikirkan bagaimana
mengumpulkan uang untuk pengobatan Ibunya. Apapun caranya. Halal? Haram?
Membiarkan Ibunya tergeletak sakit di ranjang adalah dosa juga bagi Tuhan,
pikirnya.
Adi berjalan mendekati gadis itu
dari belakang, menarik tasnya dan langsung berlari sekencang-kencangnya,
sementara gadis itu berteriak tanpa bisa mengejarnya, dan tidak ada yang
mendengar jeritannya. Adi pun bersembunyi. Dilihat isi dompet itu, dan
menyumpah serapah. Isinya hanya beberapa kartu kredit dan 2 lembar uang Rp 20.000.
Adi membanting dompet itu,
memeluk lutut, menangis.
Terkutuk!!!
Adi kemudian melihat sebuah mobil yang berhenti di jalan yang lengang itu.
Adi melihat seorang pria berjas yang sedang telponan dengan gadget mewahnya,
pasti orang kaya, pikirnya. Adi memeriksa sekeliling, dan perlahan pura-pura
berjalan melewati mobil itu. Orang berjas itu sibuk menelpon. Adi juga melihat
sepertinya pintu mobil tidak dikunci.
Adi langsung membuka pintu mobil tersebut, mengepalkan tinju. “Beri aku
semua yang kau punya!” mata Adi merah padam, air mukanya dipenuhi ekspresi
marah, sedih, dan… Menyesal. Begitu yang dilihat pria berjas itu. “CEPAT!!!”
Adi membentak, memukul kepala pria itu. Korban tersebut langsung mengeluarkan barang-barang yang dia punya, dan… Dia
langsung menyemprot Adi dengan Semprotan Anti Nyamuk. Adi berteriak histeris,
matanya seperti terbakar, dan pria tadi langsung kabur dengan mobilnya.
Warga yang mendengar teriakan Adi langsung membawa Adi ke Rumah Sakit
terdekat.
Keesokannya, mata Adi perih sekali saat ia mulai sadar. Bapak dan Ageng ternyata
sudah berada di sampingnya, Bapak mengusap air matanya. “Apa saja yang kau
lakukan kemarin, Adi?” kata Bapak lirih. Adi bertanya, “Ibu, ibu bagaimana??”.
Bapak menghela napas panjang, menangis. “Mana Ibu?” Adi bertanya lagi.
“Ibu sudah meninggal, kak Adi” Ageng yang bicara. Adi merasa seperti disiram sedrum air es ke
kepala, sambil hatinya terasa ditusuk. Adi tidak percaya. “Ka-kapan?”.
Bapak semakin menangis. Ageng
menjawab pertanyaan kakaknya, “beberapa hari lalu, Kak”. Mata Adi terasa
semakin perih, amat perih karena air mata.
Bapak menangis tersedu-sedu. Adi
terdiam, dan Ageng berkata pada kakaknya dengan polos, “karena motor Bapak
rusak, jadi Ageng dan Bapak kemari dengan kendaraan umum”. Adi seperti hilang
pikirannya, dia bingung.
“Rusak?”
“Iya, rusak” jawab Ageng. Ageng
lalu melihat jam tangan logam Adi yang sudah rusak itu di meja samping ranjang
Adi. “Kak, jam kakak yang mahal itu kok rusak?” Tanya Ageng.
Adi terdiam.
***
“Adi pinjam motornya, Pak!” Adi
sudah bersiap-siap dengan motornya. Bapak langsung loncat dari kursi malasnya,
“Eeeeh jangan, kamu kan belum bisa betul!”. “Gakpapa, mau coba-coba aja. Daaah
Bapak, nanti Adi belikan nasi padang ya!” Adi sudah melajukan motornya. Bapak
yang dibelakang berteriak jangan, firasatnya sangat tidak enak.
Adi mengebut, dan remnya blong.
Adi panik, mengklakson keras-keras, mengarah kemana saja yang aman. “AAAHHH!!!”
teriakan ibu-ibu terdengar sangat keras. Adi baru saja menabrak seorang wanita
hamil. Adi shock, langsung kabur secepatnya. Sesampai di rumah, Bapak mendapati
Adi luka-luka, dan jamnya rusak parah akibat kecelakaan tadi. Tiba-tiba telepon
rumah berdering.
Bapak mengangkatnya, dan hampir jatuh pingsan mendengar kabar di telepon itu. Bergegas dia langsung minta diantar tetangganya ke Rumah Sakit.
Bapak mengangkatnya, dan hampir jatuh pingsan mendengar kabar di telepon itu. Bergegas dia langsung minta diantar tetangganya ke Rumah Sakit.
***
“Ibuk!” Bapak menangis, memeluk
Ibu. Ibu yang sedang hamil tua tertabrak sepeda motor yang remnya blong, dan
pengemudinya langsung kabur, begitu keterangan dari saksi mata. Ibu pun
meninggal dunia beberapa saat setelah dilarikan ke Rumah Sakit, begitu juga
bayi yang dikandungnya. Ia meninggal akibat pendarahan hebat.
***
Adi shock.
“Ageng, tolong belikan ayah es krim di minimarket sini ya” pinta Bapak,
Ageng yang penurut pun pergi. Bapak kemudian mengusap air matanya dan berkata
pada Adi. “Apa yang kau lakukan, Nak?” Adi masih shock berat. “Kau
berhalusinasi? Kau berpura-pura lupa bahwa Ibumu telah meninggal?”Adi masih
diam. Adi menggeleng pelan, pikirannya melayang. Dia teringat saat-saat
terakhir Ibu, Ibu memandang Adi dan memanggilnya. Tapi, waktunitu Adi terlalu takut. Dia pergi, saat ibunya sekarat.
“Apa kau pura-pura lupa kau lah yang telah membunuh ibumu?” Bapak bertanya
tajam.
“Tidak… Bukan aku…” Adi berkata
pelan.
Bapak emosi, menarik baju Adi.
“Apa yang kau lakukan??? Rem motor yang kamu pakai itu blong, dan kamu menabrak seorang ibu hamil sampai pendarahan, Adi. Dan sekarang sudah meninggal bersama anak dikandungannya. AAdi, wanita yang kau tabrak itu ibumu..." Bapak menangis.
Adi kaget, tidak percaya. "Pak, ibu lagi sakit..."
"Adi, kenapa? Kau terus meracau, membual ibu sedang sakit, butuh uang, butuh uang! Kau membuat skenario seolah ibu sedang pendarahan, tidak punya uang lagi untuk pengobatannya, supaya kau lupa kau lah yang membunuhnya!” Adi terdiam. Bapak mengelus kepala Adi sambil menangis “Adi… Adi anakku yang malang… Ibunya yang malang….”
Adi kaget, tidak percaya. "Pak, ibu lagi sakit..."
"Adi, kenapa? Kau terus meracau, membual ibu sedang sakit, butuh uang, butuh uang! Kau membuat skenario seolah ibu sedang pendarahan, tidak punya uang lagi untuk pengobatannya, supaya kau lupa kau lah yang membunuhnya!” Adi terdiam. Bapak mengelus kepala Adi sambil menangis “Adi… Adi anakku yang malang… Ibunya yang malang….”
Adi diam. Berteriak, dan meronta-ronta di tempat
tidurnya. “ITU KECELAKAAN MURNI!!!”
No comments:
Post a Comment