Saturday, April 8, 2017

Makan Wafer Pakai Saos Tomat // Pentingnya Beradaptasi dan Caranya

artikel di bawah ini sebenernya saya bikin buat memenuhi kewajiban saya bikin konten di LDK Al-Fath FEB kampus saya. Harusnya Islami sih, tapi kok gak ada islami nya sama sekali ya. Saya pun bingung, tapi yaudalah


(baca bismillah dan siapkan diri anda sebelum baca artikel yang tidak berfaedah dan ga jelas ini, sebelum baca artikel ini, siapkan nomor telepon darurat kalau terjadi apa-apa ya. Penulis takut kalau anda opname selesai membacanya.)

Setiap lingkungan memiliki ciri khas, atau ‘jiwa’ nya masing-masing. Ketika berada diantara teman-teman dakwah, mungkin kita akan berbicara lebih lembut. Ketika bersama mereka, mungkin tempat main kita tidak jauh-jauh dari Warung Bu Yuni, atau Warung Tegal. Itu lho, yang di depan MSU, satunya lagi yang deket jembatan PGA. Hits murah meriah, bukan? Tapi ketika berada diantara teman-teman organisasi lain, yang notabene nya lebih ‘gaul’, kita bisa jadi mengikuti alur mereka. Kita berbicara lebih ‘gaul’, kita jalan-jalan dengan mereka sampai ke punclut, atau pangandaran (?). Bisa jadi, teman-teman kita ada yang masih bicara kasar seperti ‘anjar’, ‘bege’, atau ‘belegag’, atau bahkan ada yang ngerokok terang-terangan di depan kita. Bisa jadi, kita punya dua kepribadian berbeda berdasarkan lingkungan kita bergaul. Buset serem amat dua kepribadian.


Apakah salah? Apakah kita bermuka dua? Apakah kita menjadi orang yang lain lagi di lingkungan yang lain?
Pada akhirnya, mahluk hidup memang dituntut beradaptasi untuk bisa bertahan hidup. Cicak memutuskan ekornya saat merasa terancam. Bunglon mengubah warna kulitnya untuk mengelabui musuh. Ya, kita harus mengubah warna kulit kita untuk beradaptasi.

Garing ya? Maaf ya.

Begini contohnya. Kita bisa jadi setiap awal bulan makan di Podomoro. Nasi ayam, dua kulit, plus satu jus jambu. Tapi ketika akhir bulan, duit di dompet mulai menipis. Apa kita akan tetap makan menu yang sama di Podomoro? Saya yakin tidak, sebab pasti kita bakal menyesuaikannya dengan keadaan keuangan kita. Ya cukuplah beli nasi dan tiga tempe di kantin FEB, terus sisain satu tempe buat makan malam, nasi minta aja sama temen.

Kenapa? Karena jika kita memaksakan tetap membeli makan di tempat yang mahal, uang kita akan habis, dan kita mungkin tidak bisa makan lagi ke depannya. Apakah kita sok merendah dengan makan hanya nasi tempe? Tidak! Kita beradaptasi.

Beradaptasi adalah suatu kebutuhan, sebab kita tidak akan berada di lingkungan yang kondusif terus. Beradaptasi bukan berarti kita bermuka dua, bukan berarti kita menjadi orang lain. Masuk lah ke lingkungan mana pun, karena kita sebagai manusia memang diciptakan untuk bersosial, bergerak dan melihat dunia. Be into it. Tidak salah berteman dengan mereka yang lebih ‘gaul’, selama kita tidak ikut-ikutan kebiasaan buruk mereka. Justru, siapa tau, bukan kah disitu lah ladang kita untuk berdakwah, merangkul mereka?

Bagaimana caranya menyesuaikan diri dalam lingkungan orang ‘gaul’ ?

1.       Pahami Karakter Mereka. Tidak semua orang mempunyai karakter lembut, ada juga yang rada sensi, tentu kita harus tau dulu bagaimana karakter mereka supaya kita tau bagaimana harus bersikap terhadap lingkungan tersebut.

2.       Bertahan lah. Hold on. Be Strong. Mungkin awalnya kita merasa harshed di lingkungan tersebut, mungkin kita merasa lingkungan tersebut keras. Bertahan lah sebentar, biasakan diri. Fase ini normal kok!

3.       Husnudzon. Siapa tau, mereka ‘keras’ atau ‘terlalu gaul’ karena apa ya, misalnya belum pernah makan di Warung Bu Yuni, makanya mereka selalu makan di KFC atau Upnormal. Siapa tau mereka sering bicara kasar karena mereka gak punya kipas, jadi kepanasan, kesal, dan jadi kasar.

4.       Menyeleksi Kebiasaan Buruk Mereka, kemudian tiru yang baik-baiknya. Dengan kita mengikuti kebiasaan mereka (setelah difilter), kita akan lebih mudah masuk ke dalam lingkungan mereka. Misalnya? Sesekali ikutan nongkrong bareng mereka. Toh nongkrong tidak melulu berarti wasting time, justru nongkrong bisa memperdekat hubungan kita. Iya kita, jadi sebenernya hubungan kita itu apa? L Saat nongkrong kita bisa sharing, dan menyelaraskan persepsi, dan jadi lebih deket deh. Lebih dekat, lebih bersahabat kan? Asik.

5.       Mulai rangkul. Ketika kita sudah menyamakan persepsi, saling tahu dan rasa sayang dalam pertemanan sudah tertanam, maka selanjutnya kita bisa merangkulnya, dan menjalankan tugas kita sebagai pendakwah. Mengajak mereka untuk bersama-sama belajar lebih baik. Unch.

Kesimpulannya, sahabat, jangan takut untuk bergaul dengan siapa pun dan masuk ke lingkungan seperti apapun. Tetaplah jadi diri sendiri dan beradaptasi lah. Ganti warna kulitmu, dan coba makan di Warung Tegal depan MSU.

 

No comments:

Post a Comment