Saya adalah movfreak, jadi sekali lihat trailer film terbaru 2 jagoan ganteng Leonardo de Caprio dan Tom Hardy main film, apalagi bertema semacam viking gitu (tapi ini bukan viking, gatau deh namanya), langsung saja kepincut dan gak sabar nungguin filmnya. Apalagi The Revenant Leonardo de Caprio memenangkan piala oscar as the best actor, makin penasaran dong sama filmnya.
Awalnya saya gak tau film ini was inspired by the novel, sontak saya makin kesurupan dan ngebet pengen baca novelnya. Saya pun menaruh ekspektasi tinggi untuk merasa puas membaca novel ini.
Well ya, salahnya saya, saya lupa dengan embel-embel "inspired by" beda jauh sama"based on".
Bercerita tentang Kapten Henry dan rombongannya yang ditugaskan sebagai penjelajah untuk kepentingan perdagangan bulu. Hugh Glass adalah kepercayaan Kapten Henry, dan as we all know, tiba-tiba terjadi suatu musibah mengerikan. Glass yang sedang berjaga sendirian diterkam sebuah beruang grizzly, yang menyebabkannya luka parah di sekujur tubuh dan setengah sadar, sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan rombongan Kapten Henry. Mereka pun membopong Glass sepanjang perjalanan. Sadar bahwa hal itu akan melambatkan dan menghambat (-dan tetu membahayakan) penjelajahan mereka, Kapten Henry dengan berat hati memutuskan dua orang untuk tinggal bersama Glass, merawatnya semampu mereka, dan bila tiba waktunya bagi Glass, mereka menguburkan Glass dengan layak, dengan upah yang besar. Dua orang, Fitzgerald yang sebenarnya tidak bisa dipercaya dan Bridger yang masih terlalu muda dan rapuh mengajukan diri.
Hari dimana Glass mulai sadar, Fitzgerald -yang tidak sabar dengan kematian Glass- melihat segerombolan pasukan suku Ree yang memusuhi siapa pun orang asing. Fitzgerald memutuskan untuk meninggalkan Glass. Bridger awalnya keberatan, tapi mereka tidak punya pilihan lain yang lebih membahayakan dirinya.
Namun, yang salah, Fitzgerald pergi meninggalkan Glass yang terkapar dengan membawa senapan kesayangan Glass bahkan juga belati milik Glass yang seharusnya jadi alat pertahanan Glass.
Dan, Glass bertekad untuk membalas dendam.
Beda kan sama trailer? Ya, saya sempat bingung. Sepanjang membaca novel, saya menanti-nantikan adegan seru seperti yang tergambar pada trailer. Namun, cerita justru sangat amat datar sepanjang novel setebal 383 halaman ini. Saking datarnya, sampai-sampai hampir tidak terasa ada konflik. Bahkan di ending ketika Glass akhirnya bertatap muka dengan Fitzgerald -yang telah menjadi incarannya selama ini-, sayang sekali tidak ada klimaks dan penyelesaian yang "hah, gitu doang?".
Walau begitu, penggambaran dinginnya pegunungan Rocky sebagai latar cerita dan perjuangan Glass bertahan hidup sangat jelas, gamblang dan sangat imaginable.
Saya juga kagum dengan Michael Punke yang melakukan riset cukup mendalam dengan beberapa tokoh yang nyata dalam novel ini, kita dapat mengenal mereka dengan latar belakang yang secara rinci dipaparkan oleh Punke, tapi...
Saking terperincinya, sampai-sampai saya sering melewatkan bagian pengenalan tersebut. Seringkali menurut saya, pengenalannya terlalu detail dan tidak berpengaruh dalam bobot cerita. Begitu pun tokoh fiksi, Michael Punke mengenalkan kita pada tokoh -yang sebenarnya gak ada di kejadian nyata- dengan sangat rinci, walaupun sama sekali tidak mempengaruhi jalannya cerita. Which is sebenernya sangat disayangkan, dan ini satu hal yang membuat saya sering lelah dan bosan membaca The Revenant.
Pada akhirnya, ketika saya berharap banyak pada petualangan Hugh Glass yang legendaris, saya sering ditampar dengan kenyataan bahwa "ini novel fiksi bersejarah!". Tapi ketika saya membacanya sebagai novel sejarah, saya sering mendapati bagian yang tidak perlu hadir dalam novel.
Apakah Michael Punke membuat novel ini untuk mengenalkan kita kepada sang penjelajah yang melegenda Hugh Glass? Atau hanya ingin membuat cerita yang terinspirasi dari kisah Hugh Glass?
Over all, sayang saya sangat tidak menikmati dan menyukai novel ini, heu heu heu.
Rating saya 2,5/10.
Jelek banget ya ratingnya, duh maaf bagi yang gak setuju. Penilaian ini sebagian besar berdasarkan selera saya.
Filmnya? Walau alurnya lambat, tapi keren! Dan saya bersyukur filmnya hanya "inspired by", bukan "based on".
Well, xoxo


No comments:
Post a Comment