Friday, June 3, 2016

Review Kisah Sang Penandai

Novel-novel Tere Liye adalah salah satu bacaan saya semasa SMA. Novel pertamanya yang saya baca, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, mampu membawa saya larut dan membuat saya langsung jatuh cinta pada Tere Liye. Saya pun meneruskan dengan membaca novel-novel lain seperti Sunset Bersama Rosie, Kau aku dan sepucuk angpao merah, Bulan, Sekuel Negeri Para Bedebah, dan Kisah Sang Penandai.

Pertama saya penasaran dengan sinopsisnya yang -memang biasanya- singkat. Namun, saya tidak kunjung menemukan novelnya terjual di Gramedia Batam -saya masih belum berani beli online-. Jadilah saya penasaran, semakin penasaran dan ekspektasi pun semakin tumbuh tinggi.



Sampailah saya menemukannya -lewat situs online Bukukita.com-. Saya seneng banget dan langsung order, dengan ekspektasi sangat tinggi. Hari barang tersebut tiba, saya sempat terkejut melihat novelnya yang cukup -sangat- tipis dibanding novel-novel Tere Liye lainnya.

Baca lah saya...

Kisah ini dimulai dengan perpisahan. Jim, pemuda yatim piatu yang hanya punya kemampuan memainkan biola di acara-acara pernikahan di desanya. Sampai satu hari, saat dia sedang bekerja menghibur tamu undangan di acara pernikahan temannya, dia bertemu dengan cinta pertamanya, Nayla.

Benih-benih cinta tumbuh pesat diantara mereka, dan jadilah mereka sang pecinta. Namun Nay adalah putri bangsawan, dan Jim hanyalah pemuda miskin papa yang hidup sendiri. Sudah bisa ditebak, keduanya menjalin kisah cinta yang terlarang. Singkat kata, daripada menanggung siksa terpaksa menikah dengan pria selain Jim, Nay memilih mengakhiri hidupnya.

Jim yang kehilangan, menyesal karena telah menjadi pengecut, kemudian bertemu seorang absurd yang menamai dirinya Sang Penandai. Jim lalu diincar oleh pasukan pedang karena Nay yang dikira meninggal di tangan Jim. Sang Penandai menyuruh Jim untuk naik ke sebuah armada kapal dan bekerja disana. Untuk menemukan tanah harapan dan mengukir kisahnya sendiri...

Saya sangat menikmati penggambaran kehidupan di atas kapal yang di tulis om Tere. Lainnya, layaknya seorang penulis novel yang sudah profesional, saya berhasil dibuat simpatik dan merasakan sendiri perkembangan karakter Jim yang betapa pun berubah, hatinya tetap rapuh dan lemah. He is the best at this, ya. Om Tere penulis lokal terbaik menurut saya, dalam hal perkembangan karakter tokoh dan dalam hal membikin kita larut dalam cerita. Walau....

Klise? Ya sih, haha. Dan seperti biasa, Tere Liye selalu menanamkan nilai-nilai kehidupan yang dalem euy dan mampu membuat hal klise menjadi menarik, dan gak sekedar gitu doang.

Ya, over all saya menikmati novel ini. Dan hanya hal diatas yang membuat saya mampu melahap novel setebal 294 halaman ini dalam 5 hari (atau kurang, karena sambil baca novel Sycamore Row juga)

Namun... Taste petualangan Jim dan Pate tidak terasa. Bahkan saya tidak merasakan sensasi tegang tiap adegan pertarungan.

Seperti banyak di novel lain, selalu ada tokoh yang 'menjelma' sosok om Tere untuk jadi 'the wise one' yang sepanjang cerita akan memberi wejangan, walau tidak terlalu terlibat dalam jalannya cerita. Well, you know what i mean right? -misalnya, tokoh Pak Tua dalam novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah, Oma dalam novel Sunset Bersama Rosie, atau si malaikat dalam novel Rebulan Tenggelam di Wajahmu-. Saya lagi-lagi tidak menyukai sosok the wise one tersebut, -masih- terkesan cuma numpang lewat buat ngasih nasehat.

Kemudian, seperti kebanyakan pembaca lain, saya merasa gak puas dengan penyelesaian cerita. Goal cerita yang mengajarkan kita untuk berdamai pada diri sendiri seperti kurang kena. Kenapa Jim tidak dibuat membuka hatinya pada wanita lain -yang jadi tokoh korban dalam membangun konflik di novel- setelah dia akhirnya ikhlas melepas Nayla? *Ups, spoiler :D *.


                               Lebih suka cover yang ini, lebih keren gimana gitu haha.

Pada akhirnya, saya seperti tidak mendapat konklusi, pantaskah kita melanjutkan hidup dengan cinta yang baru, setelah cinta yang lama meninggalkan kita untuk selama-lamanya?

In the end, bukannya novel ini terlalu childish buat saya -walopun iya sih, saya ngerasa sudah tua untuk bacaan ini-, tapi saya hanya menikmati novel ini, tidak sampai menyukainya. Dan... saya ngerasa kurang dapet pelajaran dari novel ini. Menurut saya, Sang Penandai hanyalah buku yang BOLEH lah dibaca pas waktu luang, atau kalau lagi gabut -boleh dibaca, bukan patut dibaca-

Rating saya 4,5/10.

Okelah, sekian review saya. Terimakasih dan see you next post!

No comments:

Post a Comment