Sunday, January 7, 2018

Best of 2017 // 5 Buku Terbaik yang Saya Baca Tahun 2017

2 tahun terakhir sungguh menyedihkan, saya hanya berhasil menamatkan belasan buku, hanya beberapa angka di bawah target saya, yaitu 20 buku dalam setahun. Selama hari-hari kuliah, saya hampir tidak membaca buku sama sekali, hanya saat libur, entah libur pendek, sedang, dan panjang, atau saat benar-benar gabut. Tapi sepertinya kuliah tak pernah memberimu hari benar-benar gabut :(

Sebenarnya banyak buku berkesan yang saya baca, namun aneh bila membuat 10 daftar buku terbaik bila hanya belasan judul yang saya tamatkan. Sehingga tahun ini, saya hanya membuat daftar 5 buku terbaik yang saya baca dan benar-benar berkesan. Tanpa perlu berbasa basi lagi, inilah nominasi buku terbaik yang saya baca tahun 2017!

Honorable Mention :
# George R. R. Martin : Clash of Kings
# Sapardi Djoko Damono : Hujan Bulan Juni (kumpulan puisi)
# Jalaludin Rumi : Fihi Ma Fihi
# Rawwas Qol'ahji : Sirah Nabawiyah Sisi Politis Perjuangan Nabi SAW.
# Leila S. Chudori : Pulang
# Dewi Lestari : Petir

TOP 5
1. (Kurniawan et.al.) Pengakuan Algojo 1965
Pertama kali membaca review buku ini di blog Hoeda Manis, saya langsung jatuh cinta pada buku ini walau belum membacanya. Selain membahas isu yang sangat seksi dan tak pernah kita dapatkan di pelajaran sekolah, daya tarik buku ini terletak pada sudut pandang yang digunakan, yaitu orang-orang yang mengeksekusi mereka yang tertuduh atau dicurigai sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).

PKI mungkin kejam, namun perlakuan terhadap yang hanya tertuduh pun juga kejam. Selama ini rezim pengetahuan telah bertindak tidak adil, sebab sekolah hanya memaparkan kekejaman satu pihak dan menutupi kekejaman pihak lain.

Selama membaca buku ini saya dipaksa menghadapi kenyataan pahit tentang sejarah bangsa ini. Sebab ternyata dibalik budaya luhur yang sering kita gembor-gemborkan, di masa lalu tersimpan sejarah kelam yang

2. Pramoedya Ananta Toer : Anak Semua Bangsa
Saat pertama kali membaca sekuel sebelumnya yaitu Bumi Manusia, saya merasa kesulitan membaca tata bahasanya dan penulisan yang terkesan tidak rapih. Namun hal itu tidak sedikit pun mengurangi ketertarikan saya, bahkan sampai buku kedua nya pun saya tetap berhasil dibuat menangis.

Tidak ada konflik yang menggelegar sepanjang novel, tapi justru setiap halaman memberikan nyawa yang sangat kuat, sampai rasanya tidak berlebihan sang penerbit menyatakan karya ini sebagai persembahan Indonesia untuk dunia, dan melalui sekuel ini tidak heran Pram pernah menjadi nominee Noble Award. Di sekuel ini, kita dapat melihat sejarah dari sudut pandang yang tidak ada di pelajaran sejarah sekolah, emosional, namun tidak berlebihan dan tetap berimbang.

Minke pada buku ini akhirnya sadar bahwa dia belum mengenal bangsanya, dan tersadarkan ternyata Eropa tak pernah seagung yang dia kira selama ini. Tidak banyak cuplikan cerita yang bisa saya paparkan saking kompleksnya Anak Semua Bangsa, bahkan adegan penutup buku ini adalah salah satu adegan penutup roman paling epik yang pernah ada!

3. Tasaro GK : Muhammad Sang Penggenggam Hujan
Pernah membaca sirah dalam bentuk novel? Well, membuat biografi Nabi SAW ke bentuk novel memang langkah yang sangat berani dan penuh resiko. Sebab untuk memastikan setiap perasaan bahkan ucapan yang ada di setiap kejadian dan setiap tokoh tentu perlu ketelitian, riset dan kepekaan yang luar biasa tinggi.

Namun Tasaro GK berhasil mengatasinya dengan baik sekali. Sehingga tetralogi Muhammad sangat berbeda dengan biografi-biografi lain. Tidak sekadar tahun, atau siapa yang berbuat begini dan begitu, atau sekadar nama tempat. Jauh lebih dari itu, tetralogi Muhammad mampu membuat kita tersentuh. Permainan diksi nan puitis dan apa adanya berhasil membuat kita dengan mudah mengimajinasikan kejadian di dalam novel tersebut, dan membuat saya berkali-kali terbayangkan film The Messager yang fenomenal itu.

Buku ini berhasil mengaduk emosi saya terhadap kisah-kisah perjuangan Rasulullah SAW. tanpa sedikit pun saya temukan doktrin. Tanpa penggambaran berlebihan, saya melihat sosok Nabi dan Sahabat yang lebih manusiawi dan apa adanya, alih-alih penggambaran sosok terlewat sempurna dalam buku-buku sirah.

Tanpa ragu, tetralogi Muhammad adalah salah satu (mungkin satu satunya) novel Islami terbaik yang pernah saya baca.

4. Goenawan Mohammad : Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Pernah Selesai
Goenawan Mohammad adalah salah satu orang yang paling saya kagumi di dunia ini. Membaca essay-essay GM memang tidak mudah, sekali pun telah membaca berkali-kali di tempat sepi di pojokan. Saya seringkali diam beberapa saat untuk dapat memahami isi essay nya, atau sekadar menyuruh teman membaca juga supaya dia dapat menjelaskan ke saya apa maksud essay tersebut haha. Anehnya walaupun berat, alot, kompleks dan masif, saya justru candu membacanya. Tulisan GM yang khas dengan bahasa yang kalem, dingin, datar, namun dalam, dan sulit dipahami haha.

Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Pernah Selesai GM banyak menulis tentang ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tapi juga membingungkan dan menakutkan. Buku kecil ini serupa oase di tengah padang pasir, menyejukkan, namun dengan diamnya ia menggunggah dan menonjok kewarasan kita.

5. Salim A. Fillah : Dalam Dekapan Ukhuwwah
Saya sangat anti membaca buku Islami, kecuali buku teks karya ulama yang biasanya harcover, sangat tebal, sulit dicari dan sangat mahal. Dikarenakan saya banyak menemukan hal normatif yang diulang-ulang, penggambaran sebuah sifat sempurna, tak luput dari sifat manusiawi, doktrin, lebay, subjektif, dan seringkali terlalu menggiring opini (bahkan terang-terangan!). Karena itu lah setiap berada di toko buku serupa Gramedia atau Togamas, saya tak pernah dekat-dekat dengan rak buku embel-embel agama alih-alih buku agama. Beda? Jelas, akan saya bahas di postingan selanjutnya.

Namun dikarenakan tugas baca LDK, saya terpaksa membaca buku ini, dan... Saya sungguh girang menemukan buku Islami yang tidak muluk-muluk, apa adanya, namun menyentuh! Buku ini banyak berperan sebagai reminder alih-alih normatif (atau bahasa gampangnya : you don't say).

Inti buku ini ialah sesuai judulnya, ukhuwwah. Masalah apa saja yang dapat terjadi dalam ukhuwwah, bagaimana menghidupkan ukhuwwah, dan lain-lain. Namun juga sarat akan wisdom  dan pengetahuan Islam yang seluas alam. Buku ini berisi cerita-cerita inspiratif, puisi yang menyentuh, dan penelitian dari buku-buku mentor ternama seperti Jhon C Maxwell, Stephen Covey, Yvonne Oswald, dan lain-lain.

Sulit bagi saya menentukan bab mana yang paling saya sukai, sebab setiap bab memiliki penekanan yang berbeda. Di setiap akhir bab, saya kian menutup buku sejenak, dan merenungkan sejauh mana diri ini mampu mendekap ukhuwwah, dan lebih jauh, sejauh mana saya telah mengamalkan Islam tidak hanya sebagai pemenuh eksistensi jati diri, tapi sebagai wisdom dan penunjuk yang saya dekap di kehidupan sehari-hari.

Dalam Dekapan Ukhuwwah adalah hadiah, surat cinta paling hangat yang disajikan Salim A Fillah tidak hanya untuk pejuang dakwah, namun untuk kita yang ingin menyentuh ketulusan dan keikhlasan dalam menyayangi serta mencintai orang-orang di sekitar kita.

Yap, itulah 5 buku terbaik yang saya baca tahun 2017. Semoga tahun depan saya bisa memperbanyak bacaan saya. Sebagian memang berat, sebagian juga buku ringan. Tidak ada yang salah membaca buku apa pun. Membaca buku berat bukan berarti lebih pintar, begitu pun sebaliknya. Sebab, pengetahuan apapun yang digunakan dengan baik akan menjadi wisdom, kebijaksanaan, kemampuan yang hanya dimiliki manusia untuk membedakan baik buruk dan benar salah.

Salam literasi!

ps : honorable mention adalah judul buku berkesan yang saya baca namun belum cukup berkesan untuk masuk nominasi buku terbaik.

No comments:

Post a Comment