Meuthia Nabila P
SMA Negeri 1 Batam
Indonesia memiliki beragam suku, adat, tradisi,
bahasa dan kearifan lokal di setiap daerahnya. Para leluhur dengan tulusnya
mengajarkan petuah-petuah kepada keturunannya agar mereka mempunyai pedoman
dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dan tetap mempertahankan budayanya.
Dalam bentuk apakah biasanya? Senandung? Ceramah?
Masih ingatkah anda ketika adik kecil kita merengek
minta dibelikan mainan? Ketika anda menceramahinya, dia dengan bebal tidak mau
mendengarkan.
Atau, ingatkah anda ketika berceramah, tapi jama’ah
malah kebosanan, akhirnya hendak bersenandung tapi suara sumbang.
Aduh, kok susah betul hendak menasihati ya? Jadi apa
cara paling menarik untuk menasihati?
Ya! Bercerita!
Siapa pun akan lebih bisa memahami permasalahan jika
dianalogikan dengan cerita. Karenanya, para leluhur lebih suka bercerita
daripada berceramah.
Masih ingat bukan, ketika ibu kita mengantarkan
tidur dengan bercerita?
Karenanya terdapat banyak sekali cerita rakyat yang
dibuat para leluhur untuk kita. Tak heran kita memiliki cerita rakyat yang
sangat kaya. Membanggakan sekali, bukan?
Budaya yang tercermin dalam cerita rakyat menjadikan
cerita rakyat sendiri sebagai implementasimjati diri suatu bangsa. Ceita rakyat
yang sangat kental dan sarat maknanya dengan budaya. Banyak nilai budaya yang
dapat kita kenali dengan membaca cerita rakyat. Seperti cerita rakyat Malin
Kundang, yag menggambarkan kentalnya jiwa rantau dalam diri orang Padang. Dari
cerita Sangkuriang lah kita dapat mengenal betapa cerdiknya wanita Sunda. Dari
cerita rakyat lah masyarakat mengetahui sifat orang Indonesia yang sangat
ramah, mencintai dan menghormati orangtua, serta mempunyai tata karma.
Bangga 'kan jadi orang Indonesia?
Lantas, apa pentingnya cerita rakyat?
Jaman sudah
berkembang, hari gini masih bicara soal cerita rakyat? Jelas, cerita rakyat
bukan omong kosong. Anak muda sekarang
lebih setia mendengarkan roman picisan
ketimbang wayang. Anak kecil sekarang lebih antusias mendengar kisah klasik
Barat seperti Putri Tidur yang terbangun karena ciuman sang Pangeran. Orang
dewasa tak ketinggalan lebih memilih cara efektif untuk menasihati anak-anaknya
selain dengan cerita rakyat.
Apalagi media dan sarana hiburan begitu banyak
merambah kehidupan generasi penerus. Terutama pengaruh alam lingkungannya yang
bernuansa teknologi, sehingga sarana tradisional mulai ditinggalkan.
Menurut saya, cerita rakyat adalah budaya yang mampu
digunakan sebagai alat atau jendela untuk memahami masyarakat di suatu daerah.
Cerita rakyat adalah suatu hal yang tak terpisahkan
dari berkembangnya suatu komunitas.
Di zaman serba modern ini menjadikan globaliasi
menjadi sesuatu yang tidak dapat terpisahkan. Sayangnya, budaya asing pun mulai
merasuki dengan mudahnya tanpa dfilter dahulu, apakah sudah sesuai dengan
kepribadian bangsa atau belum.
Akibatnya, moral bangsa pun perlahan terkikis dan mereka dan mereka mulai meninggalkan identitas
jati dirinya sendiri, termasuk budaya-budaya yang terangkum dalam cerita rakyat. Anda masih
sering mendengar istilah ‘cabbe-cabean’ bukan?
Kita puhn masih sering menjumpai kelompok punk di
jalan, atau seorang anak yang kaasar kepada orangtua, atau maraknya seks bebas?
Lalu bagaimana implementasi cerita rakyat sebagai
solusi moral bangsa? Sebagaimana yang telah saya paparkan, cerita rakuyat
adalah bentuk analogi dari petuah-petuah yang kaya. Terdapat nilai-nilai budaya
yang sangat kental di dalamnya. Dengan memahami dan mengambil sisi positif,
maka nilai-nilai dalam cerita rakyat seseorang dapat menjadikan nilai-nilai
tersebut sebagai pedoman hidupnya agar lebih baik.
Kesimpulan dari yang saya paparkan, bahwa cerita
rakyat adalah wujud dari identitas bangsa, yang mana budaya sangat tercermin di
dalamnya. Cerita rakyat juga sarat sekali akan makna yang pabila kita dapat
mengambil pelajarannya, maka akan menjadi solusi dari krisis moral bangsa yang
sedang marak.
Untuk itu hendaknya kita tidak hanya sebagai
generasi penerus , tetapi juga pelurus. Mari bersama kita lestarikan cerita
rakyat, karena kalau bukan kita, siapa lagi?
No comments:
Post a Comment