Friday, January 30, 2015

CERITA RAKYAT SEBAGAI SOLUSI MORAL DAN IDENTITAS BANGSA INDONESIA YANG MEMBANGGAKAN (masih setengah jadi)



Meuthia Nabila P
SMA Negeri 1 Batam

Indonesia memiliki beragam suku, adat, tradisi, bahasa dan kearifan lokal di setiap daerahnya. Para leluhur dengan tulusnya mengajarkan petuah-petuah kepada keturunannya agar mereka mempunyai pedoman dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dan tetap mempertahankan budayanya.
Dalam bentuk apakah biasanya? Senandung? Ceramah?

Masih ingatkah anda ketika adik kecil kita merengek minta dibelikan mainan? Ketika anda menceramahinya, dia dengan bebal tidak mau mendengarkan.
Atau, ingatkah anda ketika berceramah, tapi jama’ah malah kebosanan, akhirnya hendak bersenandung tapi suara sumbang.
Aduh, kok susah betul hendak menasihati ya? Jadi apa cara paling menarik untuk menasihati?

Ya! Bercerita!

Siapa pun akan lebih bisa memahami permasalahan jika dianalogikan dengan cerita. Karenanya, para leluhur lebih suka bercerita daripada berceramah.
Masih ingat bukan, ketika ibu kita mengantarkan tidur dengan bercerita?

Karenanya terdapat banyak sekali cerita rakyat yang dibuat para leluhur untuk kita. Tak heran kita memiliki cerita rakyat yang sangat kaya. Membanggakan sekali, bukan?

Budaya yang tercermin dalam cerita rakyat menjadikan cerita rakyat sendiri sebagai implementasimjati diri suatu bangsa. Ceita rakyat yang sangat kental dan sarat maknanya dengan budaya. Banyak nilai budaya yang dapat kita kenali dengan membaca cerita rakyat. Seperti cerita rakyat Malin Kundang, yag menggambarkan kentalnya jiwa rantau dalam diri orang Padang. Dari cerita Sangkuriang lah kita dapat mengenal betapa cerdiknya wanita Sunda. Dari cerita rakyat lah masyarakat mengetahui sifat orang Indonesia yang sangat ramah, mencintai dan menghormati orangtua, serta mempunyai tata karma.

Bangga 'kan jadi orang Indonesia?

Lantas, apa pentingnya cerita rakyat?

Jaman sudah berkembang, hari gini masih bicara soal cerita rakyat? Jelas, cerita rakyat bukan omong  kosong. Anak muda sekarang lebih setia mendengarkan  roman picisan ketimbang wayang. Anak kecil sekarang lebih antusias mendengar kisah klasik Barat seperti Putri Tidur yang terbangun karena ciuman sang Pangeran. Orang dewasa tak ketinggalan lebih memilih cara efektif untuk menasihati anak-anaknya selain dengan cerita rakyat.

Apalagi media dan sarana hiburan begitu banyak merambah kehidupan generasi penerus. Terutama pengaruh alam lingkungannya yang bernuansa teknologi, sehingga sarana tradisional mulai ditinggalkan.

Menurut saya, cerita rakyat adalah budaya yang mampu digunakan sebagai alat atau jendela untuk memahami masyarakat di suatu daerah.
Cerita rakyat adalah suatu hal yang tak terpisahkan dari berkembangnya suatu komunitas.

Di zaman serba modern ini menjadikan globaliasi menjadi sesuatu yang tidak dapat terpisahkan. Sayangnya, budaya asing pun mulai merasuki dengan mudahnya tanpa dfilter dahulu, apakah sudah sesuai dengan kepribadian bangsa atau belum.
Akibatnya, moral bangsa pun perlahan terkikis  dan mereka dan mereka mulai meninggalkan identitas jati dirinya sendiri, termasuk budaya-budaya yang  terangkum dalam cerita rakyat. Anda masih sering mendengar istilah ‘cabbe-cabean’ bukan?

Kita puhn masih sering menjumpai kelompok punk di jalan, atau seorang anak yang kaasar kepada orangtua, atau maraknya seks bebas?

Lalu bagaimana implementasi cerita rakyat sebagai solusi moral bangsa? Sebagaimana yang telah saya paparkan, cerita rakuyat adalah bentuk analogi dari petuah-petuah yang kaya. Terdapat nilai-nilai budaya yang sangat kental di dalamnya. Dengan memahami dan mengambil sisi positif, maka nilai-nilai dalam cerita rakyat seseorang dapat menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai pedoman hidupnya agar lebih baik.
Kesimpulan dari yang saya paparkan, bahwa cerita rakyat adalah wujud dari identitas bangsa, yang mana budaya sangat tercermin di dalamnya. Cerita rakyat juga sarat sekali akan makna yang pabila kita dapat mengambil pelajarannya, maka akan menjadi solusi dari krisis moral bangsa yang sedang marak.
Untuk itu hendaknya kita tidak hanya sebagai generasi penerus , tetapi juga pelurus. Mari bersama kita lestarikan cerita rakyat, karena kalau bukan kita, siapa lagi?

No comments:

Post a Comment