Monday, December 22, 2014

When they went : ditinggal orangtua ke tanah suci

Alhamdulillah tahun lalu orangtua berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji setelah menunggu giliran beberapa tahun. Menjelang keberangkatannya, aku kedatangan tante Ayu yang baru saja melahirkan, bersama suaminya Om Andi, dan mahluk kecil yang lucu, baru lahir dari rahim tante Ayu yaitu Raezel. Mas Rizky juga izin pulang dari kuliahnya di Universitas Pembangunan Nasional, Jogjakarta. Senang rasanya di rumah semua anggota keluargaku terasa lengkap, ditambah kedatangan Tante Iin dan Om Bujang yang bersiap membantu keberangkatan.

Ketika orangtua sudah pergi, kira-kira 2-3 setelahnya mas rizky juga pergi lagi ke kuliahnya. Om Andi juga mulai pergi ke Jakarta, dan tinggallah aku di rumah bersama Adek, Nenek, Tante Ayu dan Raezel.

Aku yang pergi sekolah pagi dan pulangnya menjelang maghrib, merasa sangat berkurang stresnya karena di rumah bisa bermain dengan bayi ini. Seminggu setelah keberangkatan orangtua ke tanah suci, tante Ayu dan Raezel bergegas menyusul Om Andi ke Jakarta. Dan tinggallah aku bersama nenek dan adek saja.

Sejak kecil aku sudah terbiasa ditinggal ayahku pergi bekerja ke luar negeri dan hanya tinggal bersama mama. Karena nya aku tidak merasa kangen atau sedih sama sekali ditinggal orangtua *waduh!*. Justeru aku merasa senang karena tidak adanya mama berarti aku bisa bebas kemana saja yang aku mau, aku bebas makan apa saja yang aku mau haha. Bukan ditinggal itu yang membuatku sedih, tapi suatu hal yang lain.

Sekolahku waktu itu masuk siang, jadi otomatis ya aku pulang menjelang maghrib. Karenanya aku sibuk belajar justeru menjelang pagi sampai agak tengah malam. Adikku takut tidur sendiri, dan dia selalu menungguku tidur, karenanya kadang-kadang dia tidur tengah malam. Atau kalau aku sedang tidak belajar dan dia baru selesai les, kami hanya duduk-duduk di depan tv menonton HBO celestial, kemudian tidur. Nenek selalu menanyakan apa yang mau kami makan dan memasakkannya, karenanya adikku bisa makan dengan lahap.

Setiap sabtu aku dan adikku selalu berkunjung ke rumah mamanya Yasmin, yaitu teman adikku. Tiap kesana aku selalu membawakan gorengan untuk teman-teman adikku disana. Sebenarnya tidak banyak yang kulakukan disana, aku hanya duduk di sofa membaca buku-buku tante tersebut, makan dan minum banyak cemilan disitu, dan bercerita dengannya. Suatu ketika, tante bercerita. Ketika dia berkunjung ke rumah dan ngobrol dengan nenek, nenek mengungkapkan bahwa adikku sering terlihat melamun menunggu kedatanganku. Kadang ia terlihat menangis sendiri, biasalah anak kecil kalau ditinggal maminya, hehe. Nenek juga mengatakan, bahwa dia jarang berbicara denganku karena aku pergi sekolah menjelang pagi dan pulang menjelang malam, jadinya aku pasti lelah, karenanya aku jarang ngobrol dengan nenek. Itu kata nenek. *Huwaaa aku nangis pas nulis bagian ini*. Aku sedih, entah kenapa. Aku hanya sangat sedih mendengar nenek ternyata berkata begitu ke tante. Dan ternyata adikku sering melamun dan menangis sendiri... Dia seringkali tidur tengah malam menungguku, atau mungkin tidak tidur karena aku yang berisik *karena sedang telponan dengan sih dia*.

Jujur ini masa yang agak berat bagiku, melihat adikku yang masih kecil seperti sedang bersedih dan termenung. Anehnya aku tak pernah berkata apa-apa perihal itu. Aku hanya menyimpan dalam hati.

Ada beberapa hal yang membuatku sangat kecewa. Saat orangtuaku pergi haji, sama sekali tidak ada saudara di Batam yang berkunjung. Kak Olin, Om Kapung dan keluarganya? Dimana mereka? Sama sekali tidak ada kabar, sekedar menelepon saja tidak. Hal inilah yang membuatku agak kesepian, karenanya aku sering berkunjung ke rumah mama Yasmin dan sahabatku, Isti, setiap pulang sekolah menggunakan busway dan angkot keri. Alhamdulillah dia mau mendengar semua keluhanku haha, maaf merepotkan ya, sayang. You're such as a good listener.

Menjelang kepergiaan, mereka menyiapkan banyak makanan cepat saji untukku dan banyak sekali cemilan. Tidak ada lagi makanan yang tidak kusuka seperti biasanya, yaitu ikan, sayuran, dan makanan berkuah. Sarapan, makan siang, dan makan malam adalah makanan sesuai kesukaanku ; nugget, sosis, french fries, dan makanan cepat saji lainnya haha. Beberapa kali, tante Heni yang baik membelikan KFC atau texas untukku, adik dan nenek. Karenanya aku menjadi lebih gemuk dan segar justeru ketika orangtuaku pergi, menjelang siang, sore dan menjelang tidur nenek selalu menyiapkan milo dan aku selalu ngemil, hehe.

Aku banyak sekali bercerita ke bang Bobby, adiknya kak Olin. Sepupuku yang baik yang tinggal di Tebing Tinggi, Medan. Tante Iin juga sering menelepon untuk menanyakan kabar, ah, aku terharu. Terutama mamanya Dimas yang sangat baik hati, bersedia mengantarku kemana saja dan kapan saja, kasarnya seperti supir pengganti mamaku, hehe.

Dear, terimakasih telah setia menemani siang malamku, tidur dan sadarku, sibuk dan luangku. Tanpamu, ntah bagaimana aku bisa menjalani ini. Kau tau sendiri bagaimana kehidupan sekolahku yang sangat menyedihkanku. Terimakasih, dear, kau yang paling setia.

Adik, maafkan kakak karena justeru tidak membuatmu makin senang, justeru malah merepotkan dan mendiamkanmu.

Nenek... Nenek sayang... *nangis, broh*. Tidak ada yang bisa kukatakan, aku hanya menyayangimu. Kau yang selalu menunggu kepulanganku di depan rumah, selalu sibuk menelepon dan menanyakan dimana aku, selalu sibuk menanyakan dengan siapa dan dengan apa aku pulang pergi. Nek... Aku sayang nenek...

No comments:

Post a Comment